Tiga Hari Itu

Oleh: Khalisah Khalid

Aku hampir lupa, kalau kesehatanku belum pulih benar. Rasa senang memuncak begitu menginjak kaki di Banda Aceh untuk ketiga kalinya. Sambil menyusuri jalan, terlintas kopi Aceh yang begitu masyhur nikmatnya, bertambah lezat bila ditemani kue timpan yang sangat kusuka. Aaaah, sayangnya aku belum bisa menikmatinya sesegera mungkin. Semoga Aceh menjadi obat, paling tidak dalam tiga hari ini. Begitu harapku dalam bisik sambil memasuki penginapan yang berada di daerah Neusu.

Selain bahagia bisa kembali ke Banda Aceh walaupun hanya tiga hari, yang lainnya karena aku dipertemukan dengan sekitar 20 orang perempuan luar biasa dan 1 orang lelaki yang bertahan berada diantara kumpulan perempuan. Jarang loh ada lelaki yang mau bergabung belajar dengan kelompok perempuan, tanpa ada rasa diskriminasi dan juga dominasi.

Bagaimana tidak hebat, 20 orang perempuan ini mencurahkan hidup dan waktunya untuk pemajuan hak asasi manusia termasuk hak atas lingkungan di desanya masing-masing. Maklumlah, kebanyakan ibu-ibu yang usianya diatas saya dan beberapa ada yang lebih muda dari saya merupakan paralegal dan fasilitator di desanya masing-masing. Saya sangat yakin, proses membangun ini tidak segampang membalik telapak tangan, dan perempuan-perempuan yang hadir disini telah menunjukkan bagaimana perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang begitu istimewa dan berbeda, dan itu merupakan bagian dari kerja keras Solidaritas Perempuan Aceh.

3 hari ini kami melalui proses belajar bersama, aku asik menyimak bagaimana ibu-ibu mulai berdiskusi dan berdebat seru tentang peran gender yang mereka alami dalam kehidupannya sehari-hari. Bu Maryati misalnya, dia menceritakan kepada kita semua bahwa di keluarganya ada hari ayah. Waw, satu hari di setiap hari Jum’at, semua pekerjaan rumah tangga dilakoni oleh sang ayah. Senang bukan??? Tidak sampai disitu, ibu yang ceria ini juga telah menanamkan pembagian peran gender kepada anak-anaknya, termasuk anak laki-lakinya yang mulai dikenalkan dengan pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak.

Nah, hal lain diungkapkan oleh kak Uti. Kakak yang heboh kalau bicara ini, menceritakan perasaannya yang malu sekali jika suaminya mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. “Apa nanti kata tetangga”, itu alasan singkatnya. Meskipun dia memahami bahwa pekerjaan rumah tangga itu tidak berjenis kelamin, bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Yang menarik awal proses belajar kami ini, paling tidak bagi saya semakin memperjelas bahwa memang peran gender, termasuk relasi didalamnya dipengaruhi dengan sangat kuat oleh sebuah system social dan budaya yang ada dalam masyarakat, termasuk agama didalamnya.

Sebenarnya diskusi masih berlangsung “panas”, namun waktu telah beranjak naik dan kini waktunya bagiku untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman advokasi yang selama ini aku lakukan. Meskipun aku bukan ahli hukum, materi belajar kami kali ini mengupas tentang hukum dan hak atas lingkungan. Aku ingat apa yang dikatakan oleh salah satu peserta, bahwa selama ini justru hukum yang membuat masyarakat tidak berdaya.

Belajar kita dimulai dengan mengulik kasus demi kasus yang dihadapi oleh peserta di masing-masing desanya dalam sebuah diskusi kelompok, mulai dari berhadapan dengan industri semen yang bernama PT. SAI dan turunan masalahnya seperti pembangunan PLTU untuk kepentingan pelanggengan bisnisnya, hingga berhadapan dengan pemilik usaha perabot. Satu demi satu peserta mengurai apa yang terjadi dan dialami oleh masyarakat dan bagaimana pilihan-pilihan yang telah dilakukan oleh paralegal ini bersama dengan komunitasnya.

Disinilah saya mulai masuk untuk menyampaikan informasi yang selama ini selalu diputar-balikkan untuk menakut-nakuti masyarakat agar tidak sesekali bersentuhan dengan hukum, jika tidak mau berhadapan dengan aparat hukum. Padahal hakikat kebaradaan hukum adalah sebagai alat untuk mencapai nilai keadilan dan memanfaatkan hukum untuk memperkuat posisi tawar mereka dan sebagai alat untuk mempertahankan dan melindungi serta mendorong dipenuhinya hak-hak asasi masyarakat sebagaimana yang terdapat dalam Konstitusi, sebagai landasan hukum tertinggi dalam berbangsa. Peserta disini sudah mengerti isi Undang-Undang Dasar 1945, walaupun tidak secara keseluruhan. selama ini, UUD 1945 juga belum digunakan sebagai pijakan untuk melihat sejauhamana kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerahnya bertentangan atau sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan produk hukum yang lebih tinggi.

Termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kerusakan lingkungan hidup telah mengarah pada pemusnahan sumber-sumber kehidupan manusia dan penurunan kualitas hidup manusia, mungkin itu salah satu alasan mengapa hak atas lingkungan juga menjadi salah satu materi yang menarik untuk didiskusikan. Kami pun mulai saling berbagi cerita, ibu-ibu ini sedikit banyak telah mengetahui bagaimana pentingnya arti lingkungan hidup, meskipun diakui bahwa urusan perut menjadi kebutuhan yang lebih utama. Makanya ada diantara keluarga mereka yang bekerja mencari nafkah di PT. SAI, yang ibu-ibu juga telah ketahui telah mencemari lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan mereka seperti pertanian.

Diantara peserta ada yang merasa bahwa diantara paralegal ini belum melakukan apa-apa, tapi ada juga yang mengatakan bahwa meskipun sedikit dan kecil, paralegal ini telah berjuang meskipun belum maksimal hasilnya. Dari sinilah aku mulai mengenalkan strategi dan pernak-pernik advokasi dan komunikasi, sebagai salah satu keahlian yang akan sangat baik jika dimiliki oleh seorang paralegal lingkungan.
Kami mencoba “berkomunikasi” dengan sebuah permainan singkat, bisik kata. Meskipun permainan ini sederhana, ternyata ada juga kelompok yang salah menyebutkan sesuai permintaan fasilitator. Kami tertawa terbahak-bahak ketika kelompok tiga salah menyebutkan kata, dari kata hak lingkungan, menjadi hai lingkungan.....

Dari permainan singkat ini kami dapat mengambil pembelajaran, bahwa meskipun setiap hari dilakukan, berkomunikasi tidak semudah yang kita bayangkan. Karena itulah strategi komunikasi menjadi penting untuk diketahui oleh seorang paralegal, dan kata-kata kepercayaan menjadi keharusan dalam kerja-kerja advokasi, apalagi bagi seorang paralegal atau fasilitator desa yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dengan segala dinamikanya.

“Takut di-Pritakan, mbak”, yang lain menyahut “takut seperti pak Munir, mbak”, itu ungkapan dari ibu-ibu yang tidak lepas membayangi mereka, ketika mereka harus berhadapan dengan kerja-kerja advokasi di lapangan. Manusiawi dan bahkan teramat sangat manusiawi, apalagi bagi perempuan-perempuan yang daerahnya baru lepas dari operasi militer seperti di Aceh.

Menggunakan hukum sebagai alat perjuangan memang seperti berjalan di hutan belantara, karena hukum di Indonesia masih korup, tidak independen dan belum berpihak kepada keadilan bagi rakyat miskin. Namun bagaimanapun situasinya, masyarakat harus tetap mengerti tentang hukum termasuk bagaimana membedakan antara hukum pidana dan perdata. Yang terpenting tidak takut lagi dengan kata-kata hukum dan bahkan menggunakan instrument hukum untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Kak Khairani, yang memang jago di bidang hukum mengajak kita semua untuk mulai belajar mengelompokkan criteria hukum pidana dan perdata. Lagi-lagi saya terkagum-kagum, dengan pemaparan ibu-ibu di depan kelas selepas membedah kasus di desanya masing-masing. Wuih, ibu-ibu ini sudah bisa mengidentifikasi kasus-kasus mereka berdasarkan kriteria hukum perdata dan pidana, meskipun mereka bukan ahli hukum.
Bukan itu saja, termasuk pada strategi atau pilihan apakah akan menggunakan jalur hukum atau diluar jalur hukum seperti lobby, mediasi dan lain-lain. Apalagi saya percaya bahwa pada dasarnya perempuan merupakan seorang pelobby yang ulung, karena memiliki pengetahuan dan pengalaman melakukan lobby dalam kesehariannya.

Lewat bermain peran, peserta ini mulai mempraktekkan bagaimana melakukan lobby-lobby dengan para actor-aktor yang dianggap penting untuk dipengaruhi dalam kasus-kasus yang terjadi di desanya, mulai dari pak Keucik sampai Bupati. Meskipun hanya bermain peran, peserta mencoba untuk mendalami karakter aktor-aktor yang mau dipengaruhi. Sekali-dua kali-tiga sampai empat kali, hampir semua peserta kebagian peran dan belajar bagaimana cara melobby.

“We are the best”, itu teriakan kami bersama setelah kita semua sukses belaajar bagaimana proses melobby. Tentu tidak berhenti hanya sampai disini, karena semua yang dipelajari akan dipraktekkan secara langsung di desanya. Paling tidak, pertemuan ini sudah berhasil merancang kerja-kerja yang akan dilakukan secara realistis.

Jam 17.30, pesawatku meninggalkan Banda Aceh. Meskipun terlalu cepat berada di Banda Aceh, paling tidak dalam tiga hari ini aku bisa berada diantara perempuan-perempuan hebat sampai doa dan harap mengakhiri perjumpaan kami. Semoga perjuangan membela hak-hak masyarakat dan hak perempuan ini dapat menuai keberhasilan, dan kami masih bisa terus belajar bersama.

Aaaah,perempuan memang punya segudang pengetahuan dan pengalaman berjuang mempertahankan kehidupannya. Sayangnya, inilah yang tidak pernah dilihat dan diakui oleh negara dan komunita social lainnya. Selain hanya melulu menempatkan perempuan sebagai korban yang tidak berdaya.

Baca selengkapnya...

Dua Puluh Lima Agustus

Khalisah Khalid

Aku suka tanggal Dua Puluh Lima Agustus, sangat suka. Karena di hari itu, selalu ada banyak makanan, kado dan doa tentunya, yang selalu mengalir untukku tanpa syarat. Kecupan di pagi hari, biasanya meluncur di keningku tanda syukur dari ibu yang melahirkan aku di tanggal itu. Pikir-pikir, romantis juga ibuku. Hihihi….. Aku senang di tanggal itu, terlebih saat membuka kado, kakek selalu dan selalu memberikan aku kado walaupun terlalu sering kadonya barang-barang yang tidak aku sukai, tetap saja aku senang.

Nasi uduk, selalu dengan setia menemaniku di tanggal itu. Teman-temanku suka “meledek”, orang Betawi mengganti kue ulang tahunnya dengan nasi uduk. Ibuku berpikir sederhana, kalau nasi uduk bisa dimakan banyak orang dan mengenyangkan, iya kan? hehehe,…. Selalu dan hampir selalu ibuku membuatkan nasi uduk untuk bersama-sama kumakan dengan teman-teman. Aaah, ibuku memang paling top sedunia. Nasi uduknya, hmmmm, eunak tenaaan.

Pernah ada satu kali, kue ulang tahun menemani di tanggal itu yang disiapkan teman-temanku, dan sudah bisa diduga kue ulang tahun berubah jadi bahan untuk saling melempar kue. Pun demikian, aku tetap bahagia dan kami semua tertawa. Dua puluh lima Agustus, selalu indah bagiku.

Semua kebaikan, kesehatan dan kebahagiaan menjadi doa yang mengalir untukku tanpa syarat dan tak pernah kurang sedikitpun, tak pernah dari orang-orang terdekat dan teman-teman. Rasanya seluruh kebaikan isi bumi, seperti kata temanku memelukku dengan erat. Sungguh, dihari yang kusuka ini aku ingin membagi semua kebaikan yang ada di bumi bagi seluruh ummat manusia.

Kini, waktu itu kembali lagi dan aku menantikannya sejak beberapa hari sebelumnya. Kala semua kebaikan seluruh bumi mendekapku dalam damai. Bagiku, bertambah usia itu indah, seperti tumbuhnya benih padi yang menguning dan memberikan harapan hidup bagi banyak orang. Setiap tahun selalu ada yang istimewa, meskipun juga kehilangan beberapa hal yang istimewa. Kado kakek sudah dua tahun ini tidak menyambangiku, sejak Beliau pergi menghadap penciptanya. Juga sempat merasa sendiri di dua puluh lima agustus tahun 2006 di Bali, namun lagi-lagi teman-teman menyemarakkan hari itu dengan doa, tawa dan lagu dan meyakinkan bahwa aku tidak akan pernah sendiri dan sepi.

Tahun ini, aku menjumpai lagi tanggal itu bersama dengan seseorang yang telah masuk dan menemani hari-hariku, dan mulai tahun ini aku mendapatkan kado kecupan darinya dan doa yang tak pernah habis. Semoga, kata yang tak pernah lepas dari harap.

Dunia virtual pun begitu adanya di tahun ini, teman-teman mengirimkan doa yang terus menerus lewat facebook, email dan sms. Terima kasih, doa yang tak pernah habis selalu menemani hari-hariku selama ini dan sepanjang tahun-tahun mendatang. Aaah, aku selalu menantikan dua puluh lima Agustus itu datang lagi dan masih bersama orang-orang yang kucintai. Amiiin…..

Baca selengkapnya...

The Green Space Area's Policy and Eviction Urban Poor in Jakarta

by: Khalisah Khalid


As a big city with the increasingly worsen sanitasy, Jakarta needs the way to recover the condition of environment. The one of ways is allocates area of green space area (RTH). The next problem is the government implements the policy of its RTH construction by making the policy that put away city poor citizen from their life space. The research purpose of seeing importance conflict between the environmental importance and the basic right of city poor and how the accses and the control authority toward life space of citizen in Jakarta. The government’s consistence of DKI Jakarta in implementing RTH policy also will be analyzed. The taken case`study is the eviction toward poor citizen’s settlement in park “clean, Humane and Prestigious” (BMW) which was held on August, 24, 2008.

From this study, can be seen the policy unconsistence of government of DKI for implementing RTH. The importance struggle also seen by the domination of capitalist groups toward space structure, including RTH.

The conclusion is eviction of poor citizen for RTH importance is not a solution that can answer all of environmental and urban affairs’ problems. The access and the control of citizen supposed to be opened toward life sources, including the land as fair as possible. And, the urban affairs’ environmental problem also can not seen as simple as citizen growth that always become justificasy for evicting the poor citizen with the outsider label “illegal”. The paradigm and the economical policy that are chosen by the government is exploitative that support consumption level in the city, and take place the capitalists as power holder has supposed to be changed.

The supporting things migration rate from the village to the city suppose to be finished by national policy. As the consequence, the urban affairs’ problem supposed to be finished together with the crisis finishing that happened in the rural. Also including agrarian conflict finishing, that has caused the citizenry lost the access and the control of life.


please see the attach: www.walhi.or.id

Baca selengkapnya...

Bengkel Menulis 13.13

Oleh: Khalisah Khalid[1]


Bengkel Menulis 13.13? Mungkin rasa penasaran yang terbesit dibenak kita semua, ketika membaca judul tulisan ini. Bengkel menulis meluncur dari sebuah perbincangan singkat untuk menemukan ruang kreatifitas lain bagi teman-teman di SMK Tehnologi Informasi Airlangga, diantara banyaknya kreatifitas lain yang telah ada.

Bengkel menulis 13.13, meluncur begitu saja sebagai sebuah nama aktifitas baru ini. Nama Bengkel Menulis ini terinspirasi dari gagasan seorang kawan di Jakarta, dan dipercantik dengan angka 13.13, karena mimpi untuk menjadi penulis andalan dimulai pada tanggal 13 Agustus jam 13. Walaupun kebanyakan orang angka 13 itu angka sial, namun bagi kami angka 13 adalah angka manis yang akan membawa angin segar bagi sekolah ini dan tentunya bagi teman-teman yang setiap harinya berkutat dengan dunia tehnologi informasi yang akan semakin mendukung dunia tulis menulis.

Geliat keresahan untuk menulis dimulai di ruang laboratorium, bersama dengan 15 orang pelajar dan ditemani guru Bahasa Indonesia. Inspirasi dan kreatifitas teman-teman untuk menulis, melampaui “kotak pintar” yang bernama komputer, bahkan melampaui ukuran ruangan kurang lebih 4x6 meter persegi yang disulap menjadi bengkel menulis. Dengan bermodalkan semangat SMK BISA, saya begitu yakin teman-teman di sekolah ini dapat menciptakan sebuah dunia baru yang bernama tulis menulis.

Bengkel ini dibuka dengan harapan agar teman-teman punya kemauan untuk menulis, menulis apa saja yang ada di hati dan pikiran. Sekedar mengingat apa yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer, “Menulislah, Kalau Tidak Menulis, maka Kau akan Ditinggalkan Sejarah”. Sejarah buat kita sendiri, keluarga, teman, komunitas dan sejarah besar bagi bangsa ini.

Bengkel menulis ini dimulai dengan membuka ruang berbagi bagi semua yang terlibat disini, berbagi cerita, berbagi pengalaman hidup yang setiap orang sedikit banyak berbeda dari yang lainnya dengan dua cara yakni menulis dan bercerita. Menariknya, dalam durasi waktu yang sama yakni 3 menit, kebanyakan teman-teman lebih “jago” memperkenalkan dirinya dengan bercerita, dibandingkan dengan menulis. Kenapa ya?

Ini satu signal, bahwa “bercerita” lebih banyak mewarnai proses kehidupan kita, daripada menulis. Alasannya beragam, tapi kebanyakan anggota Bengkel Menulis mengatakan kalau menulis itu menjadi lebih sulit, karena orang harus berpikir lama terlebih dahulu apa yang ingin dituliskan. Padahal justru kita bisa menuliskan apa yang kita pikirkan. Mudah bukan? Sebenarnya tidak perlu takut salah, karena kalaupun salah, justru disanalah proses menulis yang mengasyikkan itu dapat ditemukan.

Ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan seorang kawan wartawan yang “mengintip” bengkel ini, “apakah menulis itu bakat”? Menulis itu adalah proses, baik orang yang punya bakat maupun tidak, karena penulis terkenal duniapun memulainya dari proses. Meskipun dia punya bakat menulis, kalau tidak dilalui dengan proses belajar, tulisannya ditolak oleh redaksi majalah, koran atau penerbit buku, tentu dia tidak akan menjadi penulis besar.

Stttt, ternyata kemahiran siswa-siswa sekolah ini luar biasa loh. Patria misalnya, cowok keren ini, ternyata sudah menulis novel sewaktu di Berau. Sayangnya novelnya masih belum bisa kita nikmati. “Masih tersimpan di Berau”, akunya dengan malu-malu. Padahal bagi penulis, yang paling penting adalah kesediaan untuk saling berbagi bukan?

Lain lagi dengan Adi, dia sudah membuat 3 komik. Wuih hebat ya, bagaimana bisa memadukan kreatifitas gambar dengan cerita. Adi bilang, kalau dia baru bisa merampungkan ceritanya dan masih menemui kesulitan dengan gambarnya yang “pas-pasan”. Padahal, tidak perlu menunggu sempurna kan untuk dapat disuguhkan kepada orang banyak ide-ide yang kita tuangkan.

Kesediaan untuk berbagi dan tidak perlu menunggu sempurna untuk dapat menyuguhkan ide-ide kita kepada banyak orang, karena darisanalah kita akan banyak mendapatkan masukan dari orang-orang yang membaca tulisan kita. Suka, tidak suka, bagus, tidak bagus, biasa aja, tidak bermutu, itu merupakan bentuk respon dari orang lain ketika membaca tulisan kita. Lagi-lagi disanalah muncul kepuasan menulis.

Patria dan Adi, merupakan bukti bahwa SMK TI Airlangga memiliki penulis muda yang handal. Bagaimana dengan siswa yang lainnya? Jangan takut, teman-teman yang lain akan mengikuti jejak dua temannya ini, dan minggu depan Bengkel Menulis akan kembali dibuka untuk membuktikan kehebatan penulis lain yang sudah siap berbagi tulisannya kepada kita semua. Apalagi ada yang gemar menulis puisi, pidato dan cerita-cerita ringan.

Aha, senang rasanya menjadi kawan belajar di bengkel menulis ini. Suatu saat, sekolah ini akan dicatat oleh sejarah, lahirnya penulis-penulis muda berbakat di Indonesia yang dimiliki oleh kota Samarinda Kalimantan Timur. Ayo terus menulis, agar kita tidak ditinggalkan sejarah, punya banyak teman dan bisa dapat tambahan uang saku juga. Hmmmm, yang terakhir itu bonusnya.

Baca selengkapnya...

Babi, Orang Utan dan Kita

Oleh: Khalisah Khalid

Saya dan teman satu sore asik ngegosipin babi dan orang utan, “apa yang diomongin”? Pasti begitu yang terbesit, sambil cekikan karena membayangkan raut mukanya si Babi dan Orang Utan, apalagi membayangkan muka kami berdua yang menggosipkannya ya??. Hehehe….. Ini obrolan serius, meskipun sambil makan siang menjelang sore di pusat perbelanjaan. Entah juga mengapa dia tiba-tiba jadi topic yang asik untuk dibahas, dengan runtutan pertanyaan yang muncul satu demi satu.

Makhluk yang satu ini memang unik, paling tidak begitulah penilaian saya terhadap Babi. Bagi umat muslim seperti saya, si Babi ini akan dipicingkan sebelah mata. Dilihat aja ndak boleh, apalagi dimakan. Kyai kampung saya bilang babi itu haram, jadi jangan coba-coba makan babi. Ada teman saya muslim lainnya, “makan babi itu halal kalau dipotongnya baca Bismillah”. Ini joke tentu saja, daripada tulisan ini nantinya digugat oleh MUI dan dengan serta merta akan difatwa sebagai tulisan haram. Hehehe…. Tapi apapun alasannya, konon daging babi itu eunak, melebihi daging sapi. Percaya nggak percaya, karena aku sendiri belum mau mencoba memakannya.

Any way, obrolan saya tidak hanya berhenti pada babi halal atau haram, juga tidak berhenti pada enak mana daging babi dibandingkan dengan daging yang lain. Soalnya kita mencoba membandingkan juga dengan cerita orang utan, yang sempat dibandingkan dengan babi sebagai binatang yang lebih “baik” dibandingkan dengan orang utan.

Walaupun jarang, dan saya sendiri belum pernah menemukan atau paling tidak berniat menemukan bahwa ada juga orang yang mau meneliti tentang babi. Kebanyakan orang meneliti tentang orang utan, dan salah satu kepentingannya adalah ketika dalam penelitian itu dihasilkan konservasi orang utan sebagai satu keharusan dalam sebuah ekosistem, salah satu argumentasinya adalah ketika orang utan sebagai “mesin” penabur biji yang baik karena dia pemakan tumbuhan dan banyak karena luas jangkauannya yang jauh.

Disinilah obrolan pertama dimulai, pertanyaan saya mungkin agak iseng bagi para peneliti satwa. Tapi sebagai orang dari “dunia” lain, pertanyaan saya serius sungguh serius karena saya ingin mencoba merasionalisasikan mengapa orang utan menjadi penting untuk dikonservasi, jika dia punah apakah akan secara serius mengganggu rantai makanan yang kemudian akan kita sebut sebagai sebuah satuan ekosistem semua makhluk, termasuk manusia tentu saja. Anggaplah pertanyaan saya ini mewakili egoisme makhluk yang bernama manusia, meskipun menurut sang peneliti orang utan memiliki perbedaan genetis dengan kita itu tipiiis sekali, hanya 3 koma sekian persen, itu menurut penelitian ilmiah loh, itu sama artinya prilaku kita dan orang utan itu beda-beda tipislah.

Harusnya kalau persamaan antara kita dan orang utan begitu dekat, hidup berdampingan akan baik-baik saja kan? Tapi kok anehnya banyak konflik di kawasan konservasi, mengusir masyarakat lokal yang menduduki lahan tersebut sejak lama untuk kepentingan langgengnya kawasan konservasi orang utan. Mungkin ini yang disebut dengan politik satwa, mengatasnamakan orang utan. Duuuuh, teganya orang utan masih dipolitisisasi. Sayangnya, sang peneliti itu tidak mampu atau mungkin tidak mau menjawab pertanyaan sederhana tersebut.

Kembali ke pertanyaan saya, “selain orang utan tidak adakah binatang lain yang memiliki fungsi dan peran yang sama”? disinilah kemudian kita beralih membicarakan sang babi. Teman saya menjawab, ada makhluk lain yang bisa menggantikan orang utan, manusia salah satunya. Kalau binatang, peran tersebut bisa tergantikan oleh babi. “Lalu mengapa babi tidak pernah menjadi sebuah diskursus konservasi”, tanyaku dengan keheranan tentu saja. Mau tau jawabannya, ternyata menurut teman saya sungguh langka orang yang mau meneliti babi, sehingga kita bisa mengetahui daya jangkaunya dan seberapa banyak atau besar dia dapat menjadi penebar benih tumbuhan seperti orang utan. Dari yang sedikit langka, ada satu peneliti prilaku babi yang pernah ditemui temanku.

Tapi mari kita simak temuan peneliti babi, ternyata ditemukan bahwa lambung babi itu besar, mungkin seukuran dengan ember besar penampung air di kamar mandi kami. Apa aja isinya, tanyaku berentetan kaya’ petasan rentet. Macam-macam, mulai dari jenis binatang lainnya yang dimakan sampai kertas dan kresek. Wadaw, bisa begitu? Ya, bisa karena babi itu binatang pemakan segala atau kita menyebutnya babi itu sebagai binatang “pembersih” yang baik.

Temanku juga mengajak untuk mengingat lagi cerita sejarah masa lalu. Babi itu ditakdirkan (baca; ditugaskan oleh Sang Maha Kuasa) sebagai binatang pembersih, dalam cerita sejarah perbabian disebutkan bahwa babi diciptakan pada jaman nabi Nuh ketika Tuhan memerintahkan Nabi Nuh untuk berlayar ketika terjadi banjir besar. Semua makhluk termasuk binatang masuk kedalam perahu nabi Nuh, semuanya. Terbayang bagaimana baunya kapal tersebut dengan kotoran binatang yang beraneka macam jenisnnya. Disinilah Tuhan dengan kekuasaannya menciptakan Babi, dan seluruh kotoran binatang tersebut dimakan oleh babi. Aaah, yang bener?? Begitukan akal sehat kita bertanya, karena sungguh aku belum menemukan dalil agama dan satu periwayat hadits yang menceritakan ini. “Wah, kalau begitu Babi sangat baik dan berjasa ya”…..

Lalu kenapa babi diharamkan bagi umat muslim? Saya mencoba untuk merasionalisasikan antara haramnya makan babi dalam sebuah pengetahuan lain yang bernama kesehatan salah satunya. Ini satu alasan yang mungkin bisa merasionalisasikan “haram”nya mengkonsumsi babi, paling tidak urusannya bukan hanya pokoknya haram dan halal titik. “Karena babi itu binatang yang tidak memiliki leher, dan binatang yang tidak memiliki leher ketika dia di”bunuh” tidak mengalirkan darah. Nah, ketika dia tidak mengalirkan darah, itu akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Kenapa, karena babi itu pemakan segala dan makanan yang dicernanya masuk kedalam darah. Jika darahnya tidak mengalir waktu disembelih, itu sama artinya darahnya membeku dan yang akan ikut kita makan bersama dengan dagingnya yang mengandung banyak sekali jenis-jenis yang dimakannya, termasuk kresek dan kertas”.

Paling tidak itulah penjelasan singkat dari teman saya seputar babi, orang utan dan kita yang sedang memperbincangkannya. Masih penasaran tentu saja, karena aku belum lagi sempat untuk memeriksa yang dikatakan bahwa babi itu tidak punya leher. Termasuk untuk mengetahui lebih jauh, apa sih perbedaan 3 koma sekian persen manusia dengan orang utan tersebut, apakah pada daya indra pengedusannya yang bisa melampaui manusia. Salah satunya orang utan yang dapat mengetahui kandungan minyak dan gas dalam satu kawasan, benar nggak ya?

Tapi yang pasti, semoga Babi dan Orang Utan tidak marah telah digosipin. hmmm, jadi ingat dengan kesetaraan species yang jadi salah satu nilainya WALHI dulu kala.

Baca selengkapnya...

Sya V

Sya,
Desaumu samar menggelegar angkasa, lewat pucuk-pucuk kesetiaan yang dibungkus dalam nilai kebenaran. Kisahmu, seperti nyanyian kehidupan yang kau senandungkan dalam bait-bait peristiwa. Jemarimu mulai legam dan keruput dimakan usia, tapi tidak pada keyakinanmu.

Aku ingin menjadi engkau, lembut penuh ketegaran, sesempurna semburat jingga. Entah, mengapa aku menuliskanmu dalam ketukan-ketukan jemariku. Mengenalmu, tidak begitu. Aku hanya ingin kau tau, meriwayatkan kisahmu tak ubahnya seperti aku menyusuri bening mata air, semakin kususuri semakin haus aku akan sebuah nilai yang jika diakumulasikan entah setinggi apa. Setinggi gunung, setinggi bintang di angkasa atau setinggi imajinasi yang tak dibatasi ruang dan waktu.

Aku menutup jendela rapat-rapat, menghidupkan penghangat ruangan agar tak kaku tubuhku didekap dingin yang perlahan masuk. Secangkir teh panas menjadi teman diskusi untuk sekedar saling menyapa. “apa kabar”, pada sejumput daun yang telah diekstrak menjadi teman cemilanku di sore ini. Terbayang perempuan pemetik teh berseliweran, memetik pucuk-pucuknya. Kita asyik menikmatinya, sementara perempuan pemetik teh terus berjibaku dengan mandor-mandor.

Entah, berapa babak mereka melakoni derita hidupnya disana, di perkebunan Pagilaran, lereng pegunungan Kemuylan, sebelah utara pegunungan Dieng. Derita itu berbabak-babak, dari generasi ke generasi, berubah pelakunya, namun tetap saja sama korbannya. Perempuan pemetik teh. Anak beranak perempuan menjadi buruh harian lepas, jika anaknya tidak mau meneruskan jejak orang tuanya, siap-siaplah untuk hengkang dari rumah yang ada di area perkebunan ini.

Perempuan pemetik teh, luar biasa jasa mereka bagiku dan tentunya bagi penikmat the sedunia. Tanpa mereka, rasanya terlalu berat membayangkah makanan camilan kita termenung sendiri. “Ndak nendang”, begitu temanku selalu bilang kalau ada suasana yang kurang lengkap. Jari-jari pemetik teh begitu lincah dari satu pucuk ke pucuk yang lain, mencari-cari sambil berharap periuk nasinya tetap mengepul. Anak-anak bisa sekolah? Sebaiknya nanti dulu bicara itu, karena pucuk teh masih muda, belum waktunya dipetik dan artinya belum waktunya juga mandor-mandor, juragan-juragan itu mau berbaik hati memberikan pilihan hidup bagimu.

Belum lagi jika kau harus berlomba-lomba dengan buruh pemetik teh laki-laki, semakin kecil kesempatanmu untuk bisa menikmati lauk pauk lebih baik dari hari kemarin. Upahmu akan dihitung dari seberapa banyak pucuk-pucuk tersedia di bakul yang setia menemanimu, sementara kau abaikan lelahmu, tetap saja tenagamu tak sebanding dengan buruh laki-laki.

Mbah terlalu sempurna mengisahkan babak-babak derita perkebunan Pagilaran, dari mulai jaman Londo, digempur Jepang sampai hari ini. Rp. 400 kilo dihargai setiap kilo hasil petikan tehnya, sambil setiap mengambil gaji tak lupa harus memberikan nasi bungkus dan rokok untuk bos mandor. Aha, itu baru dari satu buruh pemetik teh dan hitunglah berapa banyak yang didapatkan oleh mandor, dengan modal wajah garang?
Menghitungnya rasanya malas, bikin sakit hati soalnya. Rasanya marah, muak dan entah apalagi. Ya, kalau sudah begitu minum teh rasanya seperti minum jamu. Minuman satu ini memang yang tidak kusukai, meskipun hasiatnya jempolan, begitu kira-kira kalau ibuku merayuku untuk minum jamu.

Sya,
Mungkin sedikit orang yang tahu bagaimana mbah, anak cucu bercucu ini menapaki babak demi babak deritanya, menghadapi mandor yang jahil memainkan jarinya di pantat si mbah yang masih belia kala itu, sambil mencekiknya dengan potongan-potongan upah untuk kretek si mandor. Perkebunan teh itu lebih kesohor dengan bisnis agrowisatanya, ada outboundnya juga yang membuat perkebunan ini tak henti-henti disanjung oleh penikmat wisata dalam situs-situs mereka. Aaaah, semoga kesabaran si mbah masih tersedia banyak dalam hatinya, jika dia tau itu. Pesohor-pesohor itu tidak pernah mau jauh lagi berjalan dan belajar memasuki nafas-nafas sesak, dihela perkebunan teh untuk pasokan ekspor.

Sya,
Matahari terus menenggelamkan dirinya, dan mungkin di dunia sana dia masih malu-malu beranjak menyapa penghuni bumi. Di pojok ruangan lain, masih di dataran dieng tak pernah habis kuteguk beningnya mata air. Disinilah perjumpaanku dengan jingga lainnya dimulai, seolah jingga itu berderet-deret membentuk satu rantai panjang bernama alur hidup kebenaran. Aku masih ingat, bersamamu menapaki satu desa, Wadas Lintang Namanya yang harus kutempuh dengan perahu tradisional meskipun dag dig dug dadaku bergemuruh mengikuti bunyi mesinnya. Hanya butuh 5.000 perak yang buatku ndak seberapa jumlahnya, tapi belum tentu untuk yang lainnya. Aku sering salah Sya, menilai bahwa penilaianku akan sama dengan penilaian yang lain, meskipun sebuah penilaian harga. Kita sering menilai pekerja seks komersil itu tidak berharga, sampah masyarakat dan seterusnya dan seterusnya.

Orang tuaku juga begitu Sya, karena itulah orang tuaku melarang adikku meneruskan pencarian identitas dirinya bareng komunitas belajarnya dengan PSK. Tapi tahukah Sya, mereka mencari rupiah demi rupiah untuk dikirim ke kampung, membiayai anak sekolah, memplester rumah biar agak bagus dan status social keluarganya naik sedikit saja. Bagiku, disanalah nilainya, sebuah harga yang mungkin aku sendiri tidak bisa melakukannya. Memangnya enak apa Sya, bercinta dengan laki-laki yang tidak kita kenal. Lagian, kata temanku yang lain, kita ini juga pekerja seks loh Sya, walaupun ndak komersial. Mikir toh?

Bisa ndak ya Sya, suatu saat “pelacur-pelacur” juga memiliki sendiri tubuhnya dan menentukan dia ingin bertransaksi dengan siapa dan itu semua atas pilihan dirinya secara sadar, bukan ditentukan oleh mucikarinya. Bisa Sya?? Jika bisa, aku ingin menceritakannya kelak pada anakku, anakmu dan anak-anak yang lahir dari kebanyakan orang tidak menghendakinya.

Aku membayangkan bisa minum teh sembari menyeruput semangkuk bubur putih. aaaah kenapa tiba-tiba aku teringat dengan jenis penganan yang satu ini ya?? Terbayang lezatnya menyerumput teh hangat bersama bubur kesukaanku waktu kecil, bertambah sempurna jika ditambah candil didalamnya. Hmmm, yummy. Glek glek glek, air liur hampir saja menetes kedalam cangkirku.

Aku ingat, Jajanan pasar ini kutemui di pagi buta, ketika bus mengantarkan aku di alun-alun kota Wonosobo. Sengaja kupilih berjalan kaki, sekalian olah raga pikirku karena jika disengaja akan menjadi kemustahilan. Aku tidak suka bangun pagi, apalagi olah raga pagi. Karena itulah aku menolak tawaran ojek motor, dan memilih berjalan kaki melalui Pasar tradisional yang menawarkan keharuman yang berbeda, dan paling tidak aroma bubur yang sudah ada di tanganku. Perlahan tapi pasti, terlewati sudah sampai ke perutku. Eunaaak tenan, aku menikmatinya sendok demi sendok.

Sya,
Kamu tau kan dinginnya Wonosobo, dataran tinggi itu kurang lebih sama dinginnya dengan The Haque. Eh, lebay nggak ya membandingkannya? Ini julukan dari kawanku Sya, kalau aku sudah bergurau melampaui batas nalarnya. Hehehe…. Siapa suruh sering-sering pake nalar ya Sya, lah wong pejabat aja nggak pernah menggunakan nalar kalau mau menggusur orang miskin.

Ya… berkali-kali, petani yang tinggal di dataran tinggi ini digusur oleh pemerintah. Alasannya buanyak banget. Mulai dari cara yang halus, dengan meminta kerelaan masyarakat berkorban untuk pembangunan, sampai yang ditangkepin, ditembakin karena menganggap petani merambah hutan negara, tepatnya tanah “milik” Perhutani. Alah mak, duluan mana sih hidupnya petani sama perhutani yang baru dapat “kerajaan” hutannya dari kolonial.

Ups, berarti Perhutani mewarisi kolonial toh? Untuk menjawab ini, aku mesti putar-putar otak dulu, soalnya banyak orang yang marah loh kalau disamakan dengan kolonial. Paling tidak salah satu pengusaha jalan tol yang kujuluki Daendels, dia langsung bilang “jangan begitu dik, masa’ saya disamakan dengan Daendels”. Hahaha….. tiba-tiba aku jadi ikut cekikan. Gendeng opo yo aku ini, ndak pa-palah toh ndak merugikan kas negara.

Akhirnya, aku berhasil juga menginjakkan kaki ditempat ini. Waktu itu umurku dua puluh lima tahun, tapi aku ingat di umurku yang belum lagi genap 15 tahun, ayah pernah mengajak kami berwisata ke kota ini. Hai, senyumku sumringah, karena tak kuduga, ibu Mulatinah datang menjemputku. Ibu ini memang luar biasa dahsyatnya, dia kutemui waktu di Jakarta bersama warga kampungnya yang lain untuk mengadukan nasibnya dan orang-orang dikampungnya yang ditenggalamkan oleh Asian Development Bank, lembaga keuangan internasional yang punya banyak proyek infrastruktur. Untuk apa?? Ternyata untuk memenuhi kebutuhanku dan orang-orang kota di Jawa dan Bali. Jahat ya Sya, kebutuhan listrikku untuk chatting-an dengan kamu, selama ini disuguhi diatas penderitaan kampungnya bu Mulatinah.

Untuk mendapatkan air bersih mereka hampir tidak memakai sumur karena letak pemukiman mereka lebih tinggi dari lokasi air yang ada, mereka menyalurkan air dari sumber air atau membuat penampungan air, untuk keperluan MCK mereka menggunakan air yang sama, yang tidak ada perbedaannya antara untuk mencuci atau memasak. Hampir lupa kukasih tau, aliran listrik yang sampai ke rumah dan kantorku dan pastinya rumah kalian juga orang-orang Jakarta, malah ndak sampai ke menerangi kampung mereka sendiri. Apa ya ndak ndablek mikirnya pemerintah. Kalau gini jadi malas bayar listrik ya Sya, hehehe....

Esok sore, aku kembali berjalan-jalan menyusuri dinginnya wadas lintang. Aku lihat, nenek tua sedang memancing ikan ditepian waduk. Kuhampiri dengan penuh semangat, siapa tau aku bisa juga belajar mancing.
“dapat banyak mbah”???, tanyaku agak ragu-ragu karena takut beliau tidak mengerti bahasa Indonesia. “Ya, seperti biasa nduk hanya cukup untuk dimakan keluarga saja”, ternyata beliau bisa juga bahasa Indonesia walau agak samar-samar. ”Memang keluarganya ada berapa orang mbah ??? tanyaku agak cerewet, mungkin karena aku gemas juga kenapa sudah nenek-nenek begini masih mencari nafkah untuk keluarganya. “kulo sama dua orang cucu nduk”, jelasnya padaku. “loh, memang orang tuanya kemana mbah”?, tanyaku memburu. “ibunya sudah meninggal waktu melahirkan anak yang kedua karena pendarahan dan ndak ada biaya ke bidan, kalo bapaknya merantau entah kemana, sudah 5 tahun nggak ada kabar ke kampung”.

Aku tak habis pikir. Harusnya perempuan setua ini sudah berisitirahat dengan damai bersama keluarganya. Tapi karena lagi-lagi kemiskinan, telah menyebabkan istirahatnya terganggu oleh “rasa perut lapar”. Dan ternyata, beliau masih bisa berjuang untuk hidup, meskipun dengan keringat bercucuran dan masih selalu berharap, Tuhan mau berbaik hati padanya. Mengirimkan malaikat penolong, yang dapat memberikan rejeki berlebih pada cucunya. Dia cuma khawatir, cucunya tidak bisa hidup lagi bersamaan dengan jasadnya yang akan terbaring kaku.

“apa lagi yang bisa kita buat selain pasrah mbak, yang penting sekarang bagaimana kita bisa makan, anak-anak bisa sekolah walaupun sampai SMP aja. ”Itu sudah cukup buat kami kok”, ucap bu Mulatinah dengan penuh harap sambil sesekali matanya menatap waduk.
Bahagia?, tanyaku dalam hening, ”jawabnya ada disini mbak, dalam hati kita dan tidak mencuri” apa yang tidak ada pada kita”. Disana letak kebahagiaan kami. Dia mengajariku falsafah hidup yang tiada habisnya.

”Tuhan ….. aku menghadap pada-Mu dalam ketidakberdayaan manusia, jika kebenaran itu memang mutlak datang dari-Mu, mengapa tak pernah Kau hadiahkan cuma-cuma pada orang-orang miskin. Jika kebenaran adalah kepunyaan-Mu, mengapa harus begitu susah orang-orang miskin ”menghamba” pada makhluk-Mu yang derajatnya tak lebih tinggi dari binatang ciptaan-Mu”.

Menjelang semua makhluk sibuk dengan ritual agamanya, menyembah pada sang pemilik kehidupan. Terdengar dengan samar-samar tanpa pengeras suara alunan adzan dari surau diujung kampung sana, yang membangunkan orang dari tidur lelapnya bersamaan dengan kokok ayam jantan yang ceria setelah persengamaannya semalam dengan sang betinanya. Di ujung sana, kala dua jingga bertemu di dataran tinggi yang sama di Jawa tengah.
Dan aku masih disini, di tempat ini. Suatu sore, dalam rinai hujan. Geliat keresahan palingkan realitas jiwa. Sayang, hujan tak cukup mampu basahi kekeringan.

JIngga, mungkin mewarisi keberanian perempuan-perempuan yang berinteraksi dengan Pram dalam karya-karyanya Midah si gadis bergigi emas atau si gadis pantai, Nyai Ontosoroh, kisah yang tak habis-habis menguras air mataku saat mengecap alur kisahnya. Aaaah, perempuan-perempuan itu begitu rupa menafsirkan dirinya ditengah budaya patriarkal yang mengungkungnya sepajang jaman.

Siapapun engkau, aku merasa tak habis-habis kekuatanmu memancar dengan caramu sendiri lewat lakon-lakonmu dan sedikit demi sedikit mengalirkannya padaku, padamu mungkin Sya dan entah pada siapa lagi yang telah mengalami perjumpaan denganmu. Kuhabiskan the yang tinggal segaris lagi di gelas, memejamkan mata, sekejap saja. Sambil berharap, esok pagi masih ada keyakinan itu dalam hatiku.

Baca selengkapnya...

Industrialisasi Konservasi

Pendapat; Koran Tempo
Sabtu, 16 Mei 2009


Industrialisasi Konservasi

Oleh : Khalisah Khalid[1]



Ada pertanyaan yang menganggu, mengapa suara masyarakat sipil tidak diberikan ruang dalam forum internasional sebesar world ocean conference (WOC), dan ketika masyarakat sipil membuat forum “tandingan” dihadapkan pada tindakan repressif Negara dengan atas nama menganggu ketertiban umum dan lain-lain dan bahkan dituding akan menggagalkan pertemuan WOC.

Jika melihat dari temanya yakni "Climate Change Impacts to Ocean and The Role of Ocean to Climate Change", WOC merupakan forum penting dan strategis dan memberikan manfaat bagi Negara dan rakyat khususnya dapat berkontribusi bagi pengurangan dampak perubahan iklim. Namun benarkah tujuan yang akan dicapai melalui deklarasi Manado ini akan menghasilkan sebuah kesepakatan yang dapat menjawab krisis iklim dan krisis rakyat?



Dalam pandangan yang paling sederhana saja, jika konferensi dunia ini tidak menyediakan ruang bagi nelayan dan masyarakat sipil untuk menyuarakan krisis yang dialaminya, maka sangat jauh kemungkinannya forum ini menghasilkan kesepakatan yang berpihak kepada nelayan atau lebih jauh negara. Terlebih, konferensi ini diselenggarakan dengan berbagai tindakan repressif dengan membungkam suara kritis yang disampaikan oleh masyarakat sipil dengan penangkapan aktifis dan lain-lain, padahal kita semua tahu bahwa krisis iklim tidak bisa ditangani dengan cara melakukan tindakan represif.

Hal lebih jauh untuk mengatakan bahwa WOC ini jauh dari krisis rakyat, khususnya nelayan dan masyarakat pesisir di Negara-negara kelauatan adalah dengan melihat agenda penting yang dibahas dalam WOC adalah Coral Triangle Initiative (CTI) yang merupakan inisiatif untuk laut dan perubahan iklim di wilayah segitiga terumbu karang (coral triangle initiative). CTI merupakan design wilayah konservasi yang melintasi territorial enam Negara yakni Malaysia, Indonesia, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Papua Nugini dan Filipina dengan luas keseluruhan mencapai 75.000 km2 dan menyimpan 3 ribu atau 53 persen jenis terumbu karang dunia dan 6 ribu jenis ikan karang.

Disinilah hal penting yang dikritisi oleh masyarakat sipil yang terdiri dari berbagai organisasi lingkungan dan nelayan bahwa CTI tidak lebih sebagai sebuah inistiatif yang semakin menghilangkan kedaulatan Negara kepulauan seperti Indonesia dan Negara-negara dunia ketiga, khususnya nelayan tradisional. WOC - CTI mengarahkan pada pasar bebas konservasi. Terakhir, terbukti dari perluasan konservasi laut Sawu dari 40 ribu ha menjadi 400 ribu ha, dan rencananya menjadi 4 juta hektar, yang akan diumumkan pada ajang WOC. Inilah hasil kerjasama The Nature Conservancy (TNC) beserta Departemen Kelautan dan Perikanan. Mereka bahkan melarang masyarakat Bajo Lamalera menghentikan tradisi mereka berburu tradisonal paus sejak April 2009, ini menjadi indikator untuk menjelaskan nelayan dijauhkan dari akses dan kontrolnya terhadap sumber daya laut mereka. Bahwa CTI berpotensi besar mengancam sumber-sumber kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan.

Dalam media publikasi Sisi Gelap dan Bahaya CTI yang dikeluarkan oleh masyarakat sipil yang mengkritisi WOC-CTI, bahwa ada prinsip dasar yang diabaikan dalam CTI antara lain keselamatan warga, utang ekologis, hak atas kelola dan kedaulatan pangan, serta abai dalam penyelesaian-penyelesaian persoalan mendasar kelautan antara lain pencemaran yang berasal dari buangan limbah industry tambang (TNC/MNC).

Rezim

Lalu siapa yang diuntungkan dari pertemyan ini? Jika melihat ulasan diatas, jelas bahwa yang diuntungkan dari seluruh cerita penyelenggaraan WOC adalah rezim industri konservasi yang menempatkan wilayah kelola konservasi dengan menggunakan pendekatan atau faham ekofasis dimana kawasan ini dikelola dengan menganggap konservasi lingkungan jauh lebih penting dari persoalan manusia. Sehingga dimana kawasan konservasi itu ditetapkan, maka disanalah ruang hidup rakyat digusur karena dianggap manusia akan merusak lingkungan.

Jika kembali kepada agenda CTI sebagaimana yang dijelaskan diatas, bahwa rezim konservasi berwujud organisasi konservasi internasional yang didukung penuh oleh lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan ADB yang membiayai industry tambak modern yang menghancurkan mangrove, negara-negara industry dan industry migas seperti Shell, Rio Tinto, Newmont dan Anglo yang selama ini menguasai jalur migas seperti Amerika dan Australia ini tengah memainkan ruang pasar bebas konservasi atau bisa juga disebut dengan industrialisasi wilayah konservasi atau taman nasional, yang dapat dilihat dari pengembangan program BBOP-Business and Biodiversity Offsets Program. Program ini menjadi pemakluman pembongkaran konservasi menjadi kawasan pengerukan sumber daya alam melalui skema kompensasi keanekaragaman hayati (biodiversity offset).

CTI tidak lebih merupakan langkah awal dari peta jalan menuju eksploitasi tambang migas dengan mengintegrasikan data, mekanisme, hukum kesepakatan-kesepakatan negara-negara yang memiliki kekayaan tambang dan keanekaragaman. Negara maju dan industri tambang yang memiliki daya rusak tinggi itu boleh beroperasi, asalkan membayar kompensasi biodiversity.

Hal lain yang mesti dlihat dalam tema besar WOC itu terkait dengan peran laut dalam mengatasi dampak perubahan iklim, ternyata malah semakin melenggengkan rezim karbon. WOC tidak membahas akar persoalan perubahan iklim, bahwa masalah iklim disebabkan oleh rezim karbon yang dipimpin oleh negara-negara maju dengan emisi karbonnya. Seharusnya WOC membicarakan kewajiban bagi negara maju untuk menurunkan emisi karbonnya, bukan dengan melalui skema perdagangan karbon.

Dari sinilah nampak jelas argumentasi penolakan organisasi lingkungan yang mengusung ideology ecological justice terhadap agenda WOC, bahwa skema biodiversity offset menjauhkan rakyat dari ruang hidupnya dan mengancam keselamatan rakyat, khususnya nelayan tradisional. Penyelamatan lingkungan hidup, khususnya terkait dengan krisis iklim seharusnya tidak menjauhkan rakyat dari ruang hidupnya.

Baca selengkapnya...

Top Ten "Lagu" Pemerintahan SBY - JK

Oleh Khalisah Khalid

Menjelang pemilu 2009, berlomba-lomba partai-partai politik terutama partai politik yang telah berkuasa mengkampanyekan dirinya sebagai partai yang telah berhasil membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat miskin di segala bidang, mulai dari isu penurunan harga BBM sampai isu pendidikan yang dinilai telah berhasil, sembari memasang angka target capaian sebagai indikator dari keberhasilan pemerintahan saat ini.

Namun sebuah tayangan di Metro TV membuat tercengang, yang menampilkan sejumlah kebijakan pemerintahan SBY -- JK yang dinilai "menyebalkan" oleh rakyat. Cukup mencengangkan, karena justru kebijakan-kebijakan inilah yang diklaim sebagai sebuah keberhasilan bagi pemerintah saat ini. Berikut ini top ten tangga "lagu" yang dikeluarkan selama satu periode kepengurusan rezim SBY -- JK, yang bernada sumbang bagi rakyat miskin di desa dan kota.

Selengkapnya:
http://www.prakarsa-rakyat.org/download/Buletin%20SADAR/SADAR%20190%20tahun%20V%202009.html

Baca selengkapnya...