aku baca lagi suratmu

Naya,

Kuharap kabarmu baik-baik

Minumlah obat dari dokter, agar sakitmu

Cepat berlalu

Hentikan mengkonsumsi mie rebus dan teh botol kesukaanmu,

yang selalu membuatmu sakit tak berdaya

Karena aku masih ingin menyaksikan

Tawa keceriaanmu

Di tengah-tengah orang kampung

Naya,

Pesawat kami sudah mendaratkan badannya di bandara narita

nampak juga teman dari beberapa Negara

Bekas jajahan Jepang

Ya ….. mungkin program studi ini

Politik balas budi Jepang

Terhadap Negara-negara

Jajahannya tempo dulu

Aku ingin membawamu serta

Jalan-jalan disini, di taman kota

Melihat inmemorial park, sejarah kelam

Jatuhnya bom di Hiroshima

Walaupun kau bilang sama seperti di taman masjid Istiqlal

Menyusuri kota dengan tramp yang sangat teratur

Atau naik bus way yang sangat menakjubkan

Bersih, nyaman dan tak ada anak-anak penjaja asongan

Karena anak-anak miskin disini sudah dijamin

Seluruh kehidupan dan biaya sekolahnya oleh pemerintah

Tidak seperti dinegara kita

Kau pasti suka melihatnya

Karena kau selalu takut melahirkan anak

Yang hanya akan menanggung utang haram

yang dilakukan pendahulunya

Naya sayang

Aku senang sekali melihatmu begitu semangat

Membantu orang-orang susah

Bukan hanya dalam kata, tapi juga dalam tindakanmu

Kebeningan hati dan wajahmu

Seperti sejumput cahaya

Ditengah gelap gulitanya negeri antah berantah ini

Tanganmu yang begitu kecil

Selalu terulur untuk menolong orang-orang pa-pa

Naya

Tiba-tiba aku teringat wajah lembutmu

Aku ingin mengecup keningmu

Mengurangi sakitmu

Mendekap hangat tubuhmu yang mungil

Yang selalu menemaniku dimasa-masa sulit

aku rindu sekali mendengar suaramu

aku ingin bercerita banyak hal

yang terjadi disini, sampai kau terlelap dalam tidurmu

“seperti dongeng penghantar tidur”

begitu katamu, kalau aku sering bercerita

dari Maroko sampai Marauke

ah ….. aku sungguh rindu

Naya

Semoga kasih Tuhan yang Maha Sempurna

Memberikan kita karunia-Nya

Untuk menjalani hidup bersama

Amin …..

11 Mei 2006 (Jakarta)

Suatu hari dimana aku meminta pada Tuhan untuk membiarkan aku tidur panjang, dan tidak ingin terbangun lagi karena aku merasa tidak mampu membuka mataku untuk melihat dan melalui realitas hidup ini. Pilihan untuk kembali ke Aceh kuputuskan jam 00.00, ketika telah mencapai titik nadir sebuah keputusasaan yang tiba-tiba menghantamku laksana palu godam.

Aku tidak pernah mengerti dengan pilihan tempat ini, aku hanya mengiyakan tawaran sahabatku untuk mulai membangun ulang kehidupanku disana.

”Mari Naya, kita sudah harus check-in, nanti telat”. Segera aku melipat lagi surat, lewat media virtual yang selalu kau kirimkan pada sangperempuanmu. Kalau hari ini, takdir Tuhan tidak menghendaki kebersamaan kita didunia ini. Berjanjilah, kau akan membawaku pergi pada kehidupan lain yang kau yakini ada. Rainkarnasi, entahlah..….. Kau begitu percaya bahwa rainkarnasi niscaya keberadaannya.

Seperti kau dulu seakan pernah berjumpa denganku, dan kemudian Tuhan tiba-tiba saja mempertemukan kita, walaupun akhirnya kita harus kembali dipisahkan oleh sebuah realitas yang kadang kala tidak kita mengerti alurnya.

“Tuhan, aku berserah diri pada-Mu. Temani dan jaga kekasih hatiku dalam setiap tarikan nafasnya. Kuatkan aku dalam setiap langkah kakiku, diantara orang-orang miskin yang hari ini selalu tertindas”.

Perlahan dan pasti, pesawat yang kami tumpangi mulai tackoff, dan tiba-tiba saja semua alur hidup yang selama dua tahun kita lalui bersama, menampakkan dengan jelas harapan hidup yang tiba-tiba kandas dan aku tertinggal disini dalam jalan-jalan sepi yang harus kulalui sendiri. Aku betul-betul tidak menduga, tangan Tuhan menarikku untuk kembali ke negeri Nanggroe Aceh Darussalam dalam kondisi yang terbalik 180 derajat.

“Bangun Naya, sudah pagi”!!!. Ketukan pintu seperti membangunkan aku dalam percakapan panjang malam tadi. Ups, very nice. Secangkir kopi panas sudah cukup menggodaku untuk segera beranjak dari tempat tidur.

“Aku kangen YaN”, teramat kangen padamu. Kucoba yakinkan hati ini, dengan menyimpan kembali surat ini diantara tumpukan buku Das Capital yang pernah dihadiahkan seorang kawan kepadaku sewaktu aku mengunjunginya.

Hai …. Kau habis menangis non, matamu sembab begitu?? Tiba-tiba saja, andrea menghentakkan aku dengan pertanyaannya yang beruntun, seperti klakson labi-labi yang berjalan disepanjang Darussalam hingga Masjid Baiturrahman.

“Tidak, mungkin hanya kurang tidur. Semalam aku terpaksa harus menyelesaikan beberapa tulisanku yang sempat tertunda hingga satu tahun”. Aku mencoba menyembunyikan kegalauanku yang sempat menyergapku hingga tengah malam tadi.

“kamu yakin tidak ada masalah sayang?” yup, I’m oke. Jawabku singkat

“Ok, non. Aku tunggu diruang depan ya. Kau harus baca surat kabar hari ini”. Sembari menyodorkan surat kabar yang terbit hari ini

“lihat Naya, tulisanmu ada di opini koran lokal hari ini. Baru satu minggu disini, kau sudah nampak seperti pengamat NAD ini”. Kita bisa rayakan ini nanti malam dengan makan-makan enak ya. Ok, honey??”

“bisakah kakak carikan aku sebotol bir, aku butuh untuk menemani tidurku yang sudah terganggu satu minggu ini”.

Hai,hai, hai … Naya, aku mengajakmu untuk makan-makan saja, anggaplah ini sebagai bentuk penghargaan karena tulisanmu sudah dimuat. Jangan lari ke alkohol dong sayang, apalagi ini daerah yang menerapkan syari’at Islam. Tidak akan dijual untuk orang muslim seperti kita.

“Please Naya, ada aku dan banyak teman-temanmu yang lain, yang terlalu besar cintanya padamu. So, kamu tidak perlu merasa sendiri”. “Aku mengenalmu dengan sangat, kamu perempuan tegar yang pernah kami kenal dalam ikatan pertemanan kita selama ini”. Sayangi dirimu Naya, seperti kami sangat menyayangimu. Bagaimana kalau kita ke pantai Lokhnga?, kau bisa mencurahkan semua kegundahan hatimu pada segenap kekuatan alam”.

“Nikmatilah bumi serambi mekkah yang sedang berdamai ini, setelah konflik yang berkepanjangan antara GAM dan RI. Kita bisa menyusuri sepanjang hutan yang indah di Aceh Selatan. Kau pasti suka, bertemu dengan perempuan-perempuan tangguh yang selalu kamu kagumi dalam hidupmu. Mimpimu kan masih panjang, kamu masih ingin membangun gerakan perempuan pedesaan yang selama ini tertindas oleh system feodalisme dan imperialisme ini kan”?? “Ayo honey, kita bisa bangun sama-sama itu disini. Kita bisa lalui hari-hari yang lebih baik dan indah, seperti yang kamu katakan dalam tulisanmu ini”.

Entahlah, sudah berapa banyak kekuatan do’a yang selalu menemani setiap langkah kaki yang aku lalui. Seperti terakhir seorang kawan mengirimkan sms untukku. “Naya, seiring do’a sahabat-sahabatmu, kamu akan dikuatkan. Tuhan akan jaga kamu dalam setiap tarikan nafasmu”.

Selesai membaca beberapa surat kabar untuk melihat perkembangan terkini Indonesia dan sedikit menengok jendela dunia, aku sudah berada di depan alat kerja yang setia menemaniku belakangan ini. Aku melihat kembali sebuah rencana untuk melanjutkan studiku yang sempat tertunda. Segera kukirim kabar kepada teman-teman yang ada di Aceh Utara agar bisa menemaniku dalam perjalanan ini.

Konflik bersenjata yang berkepanjangan, telah membuat kondisi di Lhokseumawe sebagai salah satu tempat yang sering terjadi kontak senjata antara GAM dan TNI sedikit mengkhawatirkan sampai hari ini. Pos-pos TNI dan polisi sampai hari ini juga masih berdiri, meskipun sudah banyak pasukan TNI non organic yang ditarik, pasca penandatanganan MoU antara GAM dan Pemerintah RI di Helsinki. Mungkin sisa-sisa trauma itulah yang hingga hari ini, orang lebih banyak mengunci mulutnya untuk bicara lagi soal hari-hari yang penuh penderitaan yang dilalui oleh perempuan-perempuan disini. DOM, hingga darurat sipil, sudah cukup menggambarkan bagaimana pahitnya perempuan berada dibalik moncong senjata selama kurang lebih 30 tahun. meskipun kekhawatiran juga menyelimuti jika pembahasan RUU PA tidak aspiratif dan MoU Helsinki dianggap gagal, seperti perjanjian damai yang sudah beberapa kali dicoba dan selalu gagal, maka bumi NAD akan kembali kemasa suramnya. Ah, Tuhan .... semoga itu hanya menjadi ketakutanku yang berlebihan. sungguh, jangan biarkan Aceh harus kembali kehilangan orang-orang yang tak berdosa, hanya demi alasan nasioalisme.

Rupanya, selain hobby menembak dan menumpas GAM di Aceh Utara, militer juga senang bermain-main dengan bisnis disini. Aceh Utara memang kawasan industri, sehingga sangat wajar daerah ini begitu ramai dan juga tingkat polusinya mengkhawatirkan. Militer disewa oleh korporasi untuk menjadi anjing penjaga, salah satunya PT. Arun yang mengeksplorasi dan eksploitasi GAS. Tembok yang tinggi menjadi pemisah yang cukup menyakitkan dengan perkampungan yang mayoritas penduduknya miskin. Ujong Blang adalah kawasan pantai yang juga terkena prahara tsunami, menjadi saksi dari buruknya potret investasi asing sekian puluh tahun lamanya di bumi Nanggroe ini. Dimana-mana, investasi di pertambangan memang menjadi industri yang paling gelap. Gelap karena seakan-akan tertutup, sehingga banyak dokumen yang harusnya diketahui oleh publik, jutru disimpan rapat-rapat, dengan alasan rahasia negara. Aneh bukan?? Tapi beginilah nikmatnya bermain sebagai investor di negeri yang kekayaan alamnya dibuka sebesar-besarnya bagi industri ekstraktif, tidak peduli rakyatnya harus mati dibalik tembok keuntungan bermilyar-milyar bahkan trilyunan hasil eksplorasi dan eksploitasi pertambangannya.

Seorang teman tiba-tiba mengejutkan aku, “kau harus bisa jaga diri disana, Naya”. Masih banyak mata-mata liar yang akan siap memangsamu, karena aktifitasmu itu. Apalagi jika berhadapan dengan investor asing yang kuasanya melebihi Tuhan di negeri ini.

Oh,iya. Meskipun sudah dalam kondisi damai begini??” tanyaku dengan terheran-heran

Betul Naya, karena kau bukan saja ingin mengetahui seluk beluk peran perempuan dalam mengelola sumber daya alamnya, tapi kau juga mau mengetahui sejauhmana tentara bermain dalam bisnis sumber daya alam. Tapi jangan khawatir, aku sudah menghubungi beberapa kawan, yang akan menemani aktifitasmu selama ini.

Dengan menumpang travel L300, kendaraan inilah yang selalu setia menemani masyarakat Aceh yang hendak berlalu-lalang dari Kabupaten satu ke Kabupaten yang lain. 17 Kabupaten dan 4 Kota jalur L300, yang biasanya juga dimanfaatkan untuk mengantar surat atau paket barang lainnya. Maklumlah, jasa pengiriman lewat pos atau titipan kilat, seringkali memakan waktu yang panjang. Ada pesawat SMAC, yang bisa juga membawa kita ke beberapa Kabupaten, tapi itupun tidak setiap hari. Selain pesawat capung ini, akan siap mengajak kita seakan-akan naik jetcoaster di dunia fantasi sana. Siap-siap spot jantung atau banyak-banyak berdo’a, agar pesawat tidak nyangkut di bukit-bukit atau bisa mendarat dengan sempurna.

Travel menjemputku jam 20.00 WIB, dan terus berkeliling menjemput penumpang hingga penuh. 5 jam kurang lebih, waktu yang tempuh yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke Lhokseumawe. Sepanjang jalan, meskipun agak gelap, aku mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali menengokkan kepala ke arah luar jendela. Jalan-jalan yang cukup banyak lubangnya, mirip dengan kubangan air. Mungkin partai Golkar kalah telak di sepanjang daerah ini. Karena kata seorang kawan, itu salah satu indikator yang bisa menyebutkan Golkar kalah atau menang di suatu daerah pemilihan, lihat saja kondisi jalannya, apakah beraspal atau masih berlubang-lubang. Ha,ha,ha ..... mungkin alasan yang lucu, tapi sangat masuk akal, karena siapa yang tidak kenal dengan partai utama pendukung status quo ini. Melalui daerah Pidie, tempat kelahirannya Hasan Tiro, yang disebut-sebut oleh Wali Nanggroe oleh sebagian masyarakat Aceh. Tokoh GAM yang menghabiskan waktunya di Swedia, akhirnya dapat menghantarkan rakyat Aceh pada sebuah peristiwa penting dengan lahirnya nota kesepahaman perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan pilihan berjuang dengan gerakan bersenjata di Aceh, GAM secara politik telah diakui oleh pemerintah RI dan dunia Internasional sebagai sebuah kekuatan politik untuk memerdekakan diri dari republik ini.

Andrea mulai mengoceh dengan gayanya yang khas. Naya, dimasa konflik baik waktu DOM, darurat militer sampai darurat sipil, tak ada travel yang berani lewat di malam hari. Selain karena jalannya yang buruk begini, kontak senjata biasanya akan sering terjadi. Saling bersahut-sahutan seperti sirene kereta api jabodetabek itu. Banyak pos-pos tentara disepanjang jalan ini. Tapi biasanya, tidak ada tentara yang berani lewat jalan ini, jika jumlah mereka bisa dihitung dengan jari. Mana mau mereka mati konyol, kalau nggak satu kompi, mereka nggak akan melintas disini, apalagi di malam hari.

Warga sipil juga agak takut, karena banyak juga yang kena peluru nyasar atau tiba-tiba dituduh GAM. Pokoknya benar-benar mencekam. Disetiap perbatasan juga biasanya akan diperiksa kartu identitas kita, KTP Indonesia atau bukan.

What, KTP Indonesia?? Tanyaku agak heran

Seperti apa KTP Indonesia itu, andrea?

KTP merah putih nona, seperti ini. Andrea memperlihatkan KTP merah putihnya yang sudah agak kumal itu warna benderanya.

My God, kasihan sekali saudara-saudaraku di Aceh. Untuk urusan KTP pun, mesti diyakinkan seseorang NKRI atau tidak.

Naya, inilah Aceh. Daerah istimewa, yang selalu mendapat perlakukan khusus. Dari mulai DOM, darurat sipil dan darurat militer adalah perlakukan-perlakuan khusus yang diberikan oleh Pemerintah Pusat, untuk membungkam suara-suara yang menuntut Aceh, Freedom from Indonesia. Tidak ada perlakukan khusus seperti ini di daerah lain di belahan bumi Indonesia. Hmm... benar-benar daerah istimewa. Mudah-mudahan pasca RUU PA ini, Aceh mendapatkan perlakuan istimewanya dengan memberikan keweanangan bagi rakyat Aceh sepenuhnya untuk bisa mengelola sumber daya alamnya sendiri. Sehingga kedepannya, Aceh tidak lagi miskin ditengah lumbung padi, dan rakyat Aceh bisa hidup dengan damai dan aman setelah sekian lama didera konflik bersenjata.

Rasa lelah yang teramat sangat, membuatku tertidur diantara setumpuk pertanyaan di kepala. Tuhan, beginikah cerita bangsaku, uang negara dihambur-hamburkan untuk membayar tentara berperang melawan rakyatnya sendiri.

Camp-camp pengungsian masih berdiri diantara tiupan angin malam yang menusuk sampai ke sum-sum tulangku, pasti para pengungsi itu kedinginan. Benarkah ini di Indonesia, di negeriku yang katanya Agama menjadi pandangan hidupnya, dan ramai-ramai membantai kelompok atheis yang dianggap penjahat karena tidak mengakui Tuhan. Jika saja Tuhan mendengar, tentu takkan dibiarkan para ”penjahat” berbaju agama itu berdo’a diantara dosa-dosa kemanusiaan yang dibuatnya.

1 jam lagi kita akan tiba di Lhokseumawe Naya, Andrea membangunkan aku dengan lembutnya. Seperti seekor ayam betina yang mengajak anaknya mencari makan, tatkala matahari mulai menampakkan cahaya kemerahannya. Ayam betina yang sangat rajin, mencari nafkah untuk anaknya dan selalu melindungi anaknya dari berbagai ancaman. To respect, to protect and to pulfill rupanya lebih dimiliki oleh seekor ayam betina, daripada pejabat-pejabat bangsa ini.

Aku merapikan kerudung, sambil memasuki pintu gerbang kantor NGO lokal. Ups, sampai juga akhirnya setelah 5 jam perjalanan menyusuri jalan yang berkelok-kelok, berlubang-lubang seperti pelari yang menempuh marathon di sirkuit dan tentu saja melalui banyak bekas-bekas pos-pos tentara dan GAM disepanjang jalan Banda Aceh-Lhokseumawe.

Cerita demi cerita mengalir dari sosok perempuan yang kutemui digubuknya yang rindang. Perempuan paruh baya yang begitu getir hidupnya dimasa-masa konflik. Anak laki-laki yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung keluarganya harus mati terkena timah panas sewaktu GAM dan TNI kontak senjata diperbatasan gampong. kini dia harus menghidupi dirinya sendiri. aku begitu takjub dengan ketabahan dan keikhlasannya menghadapi banyak ujian hidup. baginya mungkin menjadi kebanggan ketika anak yang dilahirkan dari rahimnya mati demi memperjuangkan sebuah kemerdekaan yang hakiki untuk rakyat Aceh yang telah sekian lama mengalami penindasan oleh bangsanya sendiri.

Dengan langkah-langkah yang pasti, aku mulai mendekati batas tembok antara PT. Arun dan pemukiman nelayan yang miskin ini. hmm.... dari jauh memang penjagaannya terlihat sangat ketat. maklumlah, eksplorasi dan eksploitasi ekstraktif memang begitu tertutup, sama tertutupnya dengan UU Migas yang sengaja dibuat begitu sangat tertutup bahkan hanya untuk mendapatkan hak informasi publikpun, akan dianggap sebagai dokumen negara yang tidak boleh diketahui oleh organisasi masyarakat sipil, apalagi cuma kelas nelayan seperti di Ujong Blang ini.

Harusnya aku bisa membantu mereka, tapi sayangnya tanganku terlalu kecil untuk membantu perempuan-perempuan yang tak berdaya. Yang paling mungkin aku lakukan adalah menghubungkan mereka dengan beberapa kenalanku di NGO perempuan, mungkin belum tentu bisa menyelesaikan masalah, tapi paling tidak akan semakin banyak orang yang membantu mereka, akan semakin ringan menghadapi kekuasaan modal yang begitu angkuhnya.

Tuhan, tentu Engkau tak pernah tertidur. Seperti banyak ayat yang menyebutkan itu dalam kitab suci-Mu. Bantulah beri mereka kekuatan dan petunjukmu, agar hari-hari yang mereka lalui tak lagi segelap langit dikala mendungnya.

Aku menghisap rokok dalam-dalam, menghabiskan cerutu sambil sesekali menengadahkan wajahku ke langit-langit perbatasan diujung sana. Bumi Nanggroe mungkin sudah begitu lelah memikul beban kejahatan penguasa dan pengusaha, hingga dia muntahkan bencana di negeri ini. Mungkin Tuhan tidak rela membiarkan lebih banyak lagi korban berjatuhan akibat perang, Tuhan lebih awal menjemput nyawa anak-anak karena Tuhan sangat menyanyanginya dan tidak mau anak-anak menjadi korban perang.

Aku memesan lagi satu cangkir kopi ulee kareng, the famous coffe, yang memang sangat terkenal nikmatnya di kota ini selain kopi gayo. Aku senang sekali, setiap kali melihat penjual kopi meracik kopi-kopi yang sudah dipesan oleh para penikmat kopi baik penduduk Aceh maupun pendatang seperti aku. Aku kadang kala senyum sendiri, disini aku dikira seorang muallaf, seorang chines yang baru masuk Islam. Yup, mungkin karena kulitku yang putih yang dilindungi kerudung merah marun ini, menandakan sekali kalau aku pendatang di Serambi Mekkah ini.

Cita rasa kopi yang begitu menggoda, membuat aku lama berbetah-betah disini. Tapi sebenarnya bukan cuma aku, hampir sebagian besar waktu orang-orang disini dihabiskan di kedai-kedai kopi. Tapi yang membuat aku agak bingung, dengan PNS-PNS, yang jam 10.00 WIB masih berada di kedai kopi, so ... masuk kerjanya jam berapa? Tak aneh memang kata seorang kawan disini yang mendaftar menjadi PNS, bisa masuk jam 10 pagi, terus istirahat siang dan jemput anak sampe jam 2 siang and then jam 15.00 sudah bisa pulang. Justru kerja kalian yang kami tidak mengerti. Kerja setengah mati, kepala dijadikan kaki dan kaki dijadikan kepala. Belum tentu digaji, apalagi fasilitas asuransi kesehatan dan pensiun. Tapi anehnya, kalian kok menikmati sekali hidup seperti itu.

Agak susah memang mendapatkan minuman beralkohol disini, kecuali bule yang membelinya. Tapi akhirnya, itu tersedia juga di kostku. Lumayan beberapa kaleng bir yang aku dapatkan dari seorang kawan di AMM. Lagi-lagi bule, yang bisa mendapatkan minuman beralkohol ini. Syit pikirku, kok mereka bisa lebih berkuasa dari pada orang-orang pribumi.

Aku masih duduk dengan santainya, aku coba menelpon kembali seorang kawan yang janji akan menemuiku disini. Janjian memang lebih asyik di kedai kopi ini, selain suasana santainya, lagi-lagi aku senang melihat para waiters, meracik kopi dengan sempurnanya. Lucunya, memang duduknya aku sendiri di kedai kopi ini menjadi pemandangan yang aneh. Jarang sekali memang perempuan mau berlama-lama nongkrong di kedai kopi. Selain bukan menjadi kebiasaan, juga karena mayoritas konsumen kopi itu laki-laki. Tidak ada catatan sejarah yang absah memang, tapi begitulah kondisinya. Kopi dan rokok identik dengan laki-laki.

Sebenarnya aku bukan bermaksud tidak menghargai budaya disini, yang menabukan perempuan merokok, walaupun nenek-nenek di kampungku juga banyak yang merokok tuh. tapi aku lebih ingin bicara soal kebutuhan yang harus terpenuhi. Hari ini, aku butuh kopi dan rokok untuk menemaniku paling tidak sampai malam nanti, jadi itulah yang aku penuhi. Sambil iseng menunggu kawan, tak sengaja mataku tertuju pada gantungan kunci yang menghiasi tasku.

Hak anda jika ditangkap polisi, sambil senyum-senyum aku membaca lagi isi dari kampanye yang ada di gantungan kunci ini. Ketua Pansus RUU PA pernah terkaget-kaget ketika aku memberikan gantungan kunci itu ke dia. Maksudnya apa ini dek? Apa kamu mau abang ditangkap polisi. Loh, abang gimana sih?? Ini kan buat mengingatkan hak abang, siapa tau nanti diperlukan. Maklumlah, bukannya sekarang lagi musim-musimnya anggota DPR diperiksa polisi, walaupun banyak teman-teman sesama Dewan protes, demi nama baik partai alias koorps. Artinya kau mendo’akan abang nanti terjegal kasus? Hai, abang kok berpikir buruk gitu sih? nggak lah, masa’ orang sebaik Ketua Pansus ini bisa ditangkap polisi. Bisa terbengkalai dong pembahasan RUU PA kita. Jawabku sekenanya. Tapi aku senang, membuat dia jadi terbengong-bengong begitu.

Good idea, gantungan kunci ini banyak aku bagikan ke masyarakat di kampung-kampung terutama yang sedang menghadapi kasus dengan investor yang sesuka hati berinvestasi disini. Menyewa polisi dan tentara untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi rakyat, salah satunya lewat penangkapan yang illegal. Yup, illegal karena justru seringkali mereka tidak memakai kaidah-kaidah hukum untuk menjerat rakyat miskin yang berani melawan investor dan pemerintah. Kampanye dengan gantungan kunci, membuat rakyat jadi tahu dengan hak-haknya yang seharusnya diberitahukan oleh para penegak hukum, tapi justru seringkali malah disembunyikan. Termasuk hak untuk didampingi oleh pengacara selama diperiksa. Boro-boro didampingi pengacara, yang ada juga penuh dengan lebam-lebam karena mengalami penyiksanaan selama diperiksa. Padahal negara ini telah menandatangani DUHAM yang salah satunya memuat bahwa tidak dibenarkan orang mengalami penyiksanaan yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya atas nama apapun.

Hai Naya, sorry saya terlambat. Tetapi saya tahu, kamu kan teman terbaik. Sial, pikirku dalam hati. Mentang-mentang aku temannya, dia seenaknya aja datang terlambat. “Ok, no problem” nyinyirku. Segera kupeluk temanku satu ini dengan penuh kehangatan. “How are you, Shoba?? “Good”, sembari duduk Shoba menjawab pertanyaanku sekenanya. Shobha memang teman yang baru aku kenal, kurang lebih satu tahun yang lalu. Perempuan cantik berkebangsaan India ini, sebenarnya salah seorang pengawalku untuk penanganan konflik yang aku pegang. Kebetulan aku menjadi klien dari organisasinya, yang memberikan perlindungan bagi human right defender dan environment right defender. Mereka begitu sigap, jika kliennya membutuhkan pendampingan melekat di lapangan. Emergency call nya selalu standby 24 hours, siap dihubungi dan siap setiap saat mendampingi kliennya. Etos kerjanya yang sangat aku kagumi, tim work yang cukup solid, padahal mereka berbeda kebangsaan. Jika aku menghubungi emergency callnya, maka sudah dapat dipastikan mereka akan mengetahui keberadaanku dimanapun, bayangkan mereka menelpon sedikitnya sehari 3 kali, untuk memastikan kondisiku dalam keadaaan aman.sebenarnya aku agak kurang nyaman, tapi bagaimana lagi. Sebagian besar kawan-kawan dan bosku menginginkan aku tetap aman bekerja di tengah-tengah konflik, meskipun aku sudah pasrahkan seluruh hidupku pada Tuhan. Jika sudah waktunya nyawa ini lepas dari raga, baik terkena timah panas atau bahkan terjatuh dari tempat tidur, itu semua sudah dituliskan sewaktu kita berada dalam rahim bunda.

Ketika aku mengabarkan bahwa aku akan pindah ke Aceh dalam beberapa bulan, semua ”pengawalku” ini sibuk sekali untuk menanyakan kebutuhanku menjadi klien mereka selama di Aceh, mereka langsung menghubungi aku dengan volunteer lembaga ini yang ada di Banda Aceh. Aku datang ke kantor mereka, tetapi secara halus aku menolaknya, karena di Aceh ini, kebetulan aku tidak menangani kasus atau konflik. Jadi tidak perlu dikawal, untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan.

”Kamu kelihatan lebih hitam Shobha”, cetusku sambil menghirup kopi yang masih tersisa

”Oh iya ya, karena aku liburan di Sabang dan setiap hari berjemur di pantai”.

“Kamu harus kesana, pantai Iboh sangat eksotis untuk dikunjungi”. Sarannya padaku dengan santainya.

Ya …. Selain Medan dan Singapura, Sabang memang menjadi daerah favorit bagi para pendatang, utamanya para pekerja NGO Internasional atau lembaga donor untuk berlibur diakhir pekan.

”Berapa lama kamu akan tinggal di Aceh”? Tanyaku sambil menyalakan rokok yang untuk yang kesekian batang

Kurang lebih tiga bulan, aku menikmati liburan sebelum aku kembali ke India dan menetap disana”. ”Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir di Indonesia, aku senang sekali bisa bertemu dan berteman dengan kamu, Naya. Ucapnya dengan lirik yang agak sedih.

”Kita masih bisa berkomunikasi melalui email, dan kamu tetap bisa berhubungan dengan organisasi kami. Kami senang sekali bisa bekerjasama dengan kamu dan teman-teman selama disini”.

Ya, aku juga sangat berterima kasih. Kamu dan organisasimu sudah banyak membantu aku dan organisasiku. Kalau tidak ada kalian, tentu kami akan menemui banyak kendala dengan aparat kepolisian di negara kami sendiri. Aku juga senang sekali, sudah merasakan masakan ala India buatanmu yang sangat nikmat. Ya .... ini sangat menyenangkan shobha, sungguh.

Kami kembali saling berpelukan erat, sungguh menyenangkan pertemanan kami. Meskipun jarang sekali bertemu, tapi selalu saja mengalir doa-doa dan harapan agar hidup kami bisa berguna untuk orang lain. Tuhan, aku masih ingin terus hidup disini.

Baca selengkapnya...

Perempuan dan Jejak Ekologi yang Ditinggalkan

Perempuan dan Jejak Ekologi yang Ditinggalkan

Oleh : Khalisah Khalid[1]

Ada survey singkat terhadap 10 orang perempuan yang tinggal di Jakarta, terkait dengan jejak ekologi yang ditinggalkan dari sebuah pola konsumsi yang setiap harinya dilakukan. Survey ini berdasarkan atas pertanyaan yang sederhana, berapa sering mereka berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dimana kecendrungan mereka berbelanja. Hasilnya tidak mengejutkan, perempuan di kota lebih dari 3 (tiga) kali berbelanja setiap bulannya di pusat perbelanjaan. Survey ini kita juga bisa melihat jejak ekologi yang ditinggalkan oleh perempuan untuk pemenuhan pola konsumsinya.

Dalam hitungan jejak ekologi (ecological footprint), kita bisa menilai sejauhmana tingkat konsumsi kita mempengaruhi kualitas lingkungan hidup kita dan tentu saja berapa besar kemudian korban yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan hidup yang bersumber dari pola konsumsi. Hitungan jejak ekologi ini memang cara menghitung dengan cepat dan relatif akurat untuk perseorangan yang bisa dihitung perbulan atau pertahun, dan tentu saja ini bisa diterapkan dimana saja termasuk di Indonesia yang tingkat kerusakan ekologinya begitu tinggi. Hasil dari hitungan ecological footprint kita mungkin akan sangat mengagetkan, tapi hitungan ini sekaligus bisa menjadi “alat” bagi kita untuk mulai mengurangi tingkat konsumerisme dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini juga hendak mengajak kita untuk melihat, bahwa jejak ekologi yang ditinggalkan oleh perempuan, bukan hanya menyisakan persoalan lingkungan hidup, tetapi bahkan berkontribusi besar atas proses kekerasan yang dialami oleh perempuan di belahan bumi lain yang mungkin tidak pernah terbayang di benak perempuan yang ada di kota. Tulisan ini hendak membawa kita (perempuan) yang tinggal di kota, untuk mulai membangun kepekaan terhadap perempuan yang tinggal di pedesaan.

Mari hitung tingkat konsumsi kita sebagai perempuan, yang mengkonsumsi lebih banyak tissue baik untuk menghapus keringat, kebutuhan di toilet, sampai menghapus makeup wajah. Apakah kita pernah berhitung, berapa banyak kemudian konsumsi kertas kita telah ikut menyumbangkan laju kerusakan hutan yang hingga kini mencapai 3,8 juta hektar pertahun. Pernahkah kita juga menghitung tingkat konsumsi terhadap tissue yang berasal dari hutan akasia, telah ikut menyumbangkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh perusahaan pulp and paper di Sumatera Utara terhadap perempuan yang tinggal di Porsea Sumatera Utara.

Kita juga sangat konsumtif terhadap kebutuhan mandi seperti sabun dan shampoo dengan berbagai aroma dan kemasannya, hingga kita tidak menyadari bahwa sabun dan shampoo itu dihasilkan dari minyak sawit (CPO) dari perkebunan besar kelapa sawit yang sangat tidak ramah lingkungan karena menggunakan pestisida dan insektisida pada masa pemupukan. Bahkan, banyak industri besar perkebunan sawit memperkerjakan buruh perempuannya dibidang pemupukan yang notabene itu beracun dan sangat berbahaya bagi kesehatan perempuan. Belum lagi tingkat diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh buruh perempuan di industri perkebunan besar kelapa sawit seperti yang dialami oleh buruh perempuan di Riau dengan satu perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Fakta ini mungkin memang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh perempuan di perkotaan, karena kita berpikir bahwa semua pemenuhan kebutuhan kita tidak ada relasi sama sekali dengan pola produksi yang dibangun oleh industri yang tidak pernah menghitung dampak ekologi yang ditimbulkan dari hasil produknya. Sesungguhnya budaya konsumtif yang dibangun oleh sistem kapitalisme tidaklah berdiri sendiri, karena ini terkait erat dengan kebijakan ekonomi politik yang dibangun dan diskenariokan sebagai sebuah papan reklame yang mengiklankan gaya hidup masyarakat perkotaan. Sistem kapitalisme menciptakan tata kuasa, tata konsumsi dan tata produksi berada di genggaman pemilik modal, dan menjadikan perempuan sebagai target utama dalam pemasaran produk yang dihasilkan.

Seorang teman perempuan pernah mengingatkan kepada saya, untuk tidak menerima pemberian emas sebagai bentuk ungkapan cinta, karena emas ternyata bukan lagi menjadi logam mulia. Emas yang sering menjadi ukuran strata sosial atau kelas bagi perempuan, ternyata telah menjadi logam penindasan bagi perempuan yang menjadi korban industri pertambangan emas.. Bahkan emas yang sangat disukai oleh perempuan, setiap gramnya menghasilkan tidak kurang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing yang dibuang. Ditambah 5,8 kilogram emisi beracun, 260 gram timbal, 6,1 gram merkuri dan 3 gram sianida. Semua limbah-limbah yang dihasilkan untuk memenuhi hasrat kita terhadap perhiasan emas, ternyata berandil besar terhadap lingkungan, khususnya perempuan yang lebih rentan dan spesifik terkena resiko dampak limbah terhadap alat reproduksinya.

Suara dari perempuan untuk perempuan, menjadi sebuah langkah nyata menuju keberlanjutan kehidupan yang lebih adil. Mari merubah gaya hidup, suara perempuan untuk kehidupan. Vote for Life, setidaknya itu dimulai bertepatan dengan peringatan hari perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2008.


[1] Penulis adalah Kepala Divisi Kampanye WALHI Jakarta, tergabung dalam Gender Working Group Friends of the Earth Internasional (FOE)

Baca selengkapnya...

hmmm

kadang Tuhan sembunyikan matahari
dan datangkan badai
kadang kita anggap itu tidak adil
dan bertanya
kemana hilangnya matahari
rupanya Tuhan hendak memberi kita
keindahan pelangi

Baca selengkapnya...

belajar menghargai pekerja seks komersil


kadang kala sulit bagi kita untuk belajar menghormati dan menghargai para pekerja seks komersil (PSK), karena menganggap mereka "sampah" masyarakat.

gambar ini sengaja kuambil waktu aku berjalan-jalan di redlight Amsterdam, dan melihat dari dekat kehidupan mereka. didekat sana, ada gereja yang didepannya terdapat patung yang kurang lebih mencoba mengingatkan kita untuk menghargai dan menghormati pekerja seks.

aku jadi teringat apa yang disampaikan oleh adikku, dia menyebut nama "pelacur" dengan sebutan pedila. perempuan-perempuan yang dilacurkan oleh negara.

Baca selengkapnya...

Sumber,KOMPAS14 Juli 2008

Agar Negara Belajar Mendengar Suara yang Tidak Terdengar

Oleh, KHALISAH KHALID

Sebagai anak petani yang tidak memiliki tanah, Weni terpaksa harus mengadu nasibnya di negeri orang dengan harapan dapat memperbaiki nasib keluarga yang lahan pertaniannya tergusur oleh pembangunan pabrik di Karawang.

Bayangan kesejahteraan dengan bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi juga jauh panggang dari api, rentetan penderitaan dia alami dan tidak ada perlindungan yang diberikan negara kepada WNI yang telah menyumbangkan devisa bagi negara yang jumlahnya begitu besar.

Di empat lain, di Sulawesi Selatan sana, sebagai petani perempuan, Daeng Bau mengalami nasib sama. Dia kehilangan sawah yang menjadi sumber pangan keluarganya dan berganti menjadi petani sayur dengan menggunakan pupuk pestisida yang sangat berbahaya bagi kesehatan rcproduksinya. Ironisnya, pupuk pestisida itu diperkenalkan pemerintah tanpa disertai menjelaskan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat, khususnya perempuan.

Risiko atas kesehatan yang sama juga dialami Surtini Paputungan yang terkontaminasi arsenik 4 mg/m sejak tahun 1998 akibat dari buangan tailing PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Sebagai pencari nener untuk menambal! penghasilan keluarga, setiap hari Surtini harus berjibaku dengan tailing untuk menghasilkan emas yang sebagian besar dikonsumsi di luar negeri. Kemiskinan semakin melingkari kehidupan keluarga Surtini dan masyarakat Buyat korban PT NMR karena mereka tidak bisa lagi melaut, selain derita penyakit yang menggerogoti masyarakat di sana.

Di kota, perempuan juga tidak kalah miskinnya. Perempuan miskin di kota-kota-besar, seperti Jakarta, tidak dapat mengakses air bersih seperti dialami Ratih. Padahal, air bersih menjadi kebutuhan dasar yang seharusnya bisa didapat gratis tanpa mengeluarkan tidak kurang dari Rp 540.000 tiap bulan.

Penghasilan keluarganya yang hanya Rp 900.000 per bulan menyebabkan Ratih tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan standar minimum sekalipun.

Menggugat

Seluruh cerita tadi bukan cerita fiksi. Empat sosok perempuan ini mewakili nasib banyak perempuan Indonesia, yang memberi kesaksian dalam Pengadilan Perempuan tentang berbagai kekerasan ekonomi akibat jauhnya akses dan kontrol perempuan terhadap lingkungan hidup dan sumber kehidupannya.

Mereka menggugat negara dan lembaga nonnegara yang telah merugikan masyarakat melalui produk kebijakan, seperti undang-undang penanaman modal asing, undang-undang sumber daya air, dan berbagai produk kebijakan ekonominya lain, seperti kenaikan harga BBM.

Kekerasan yang menciptakan pemiskinan struktural terhadap perempuan yang dilakukan negara maupun lembaga nonnegara sesungguhnya bukan hal baru. Ini menjadi realitas politik yang dipilili negara ketika memilih model pembangunan. Negara lebih memilih mengorbankan rakyatnya dengan merampas sumber-sumber kehidupan masyarakat melalui liberalisasi kekayaan alam dengan akibat degradasi lingkungan yang tidak terpulih-kan.

Negara lebih memilih lahan Ibu Pertiwi diserahkan untuk investasi pertambangan asing daripada kepentingan pemenuh-an lahan bagi petani. Padahal, pengurus negara mengakui Indonesia mengalami krisis pangan akibat penyediaan pangan berorientasi sebagai komoditas global.

Politik lingkungan menilai, berbagai persoalan lingkungan hidup dan kemiskinan akibat hilangnya akses dan kontrol terhadap sumber daya alam, berelasi kuat dengan perusakan lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di negara-negara maju dan kepentingan global (Balkie, 1985). Da-lam hal ini, politik lingkungan melihat inter-relasi antara dampak lingkungan dan relasi kekuasaan sosial-ekonomi. Relasi kekuasaan di sini termasuk masalah perebutan ekologis, yakni dalam hal penggunaan lahan dan praktik pengaturan yang dominan dalam wilayah tersebut

Sementara itu. D Rocheleau, B Thomas-Slayter dan E Wa-ngari dalam analisis politik ekologi feminis melihat, akses dai] kontrol perempuan terhadap lingkungan hidup dan sumber kehidupannya diciptakan secara struktural yang kemudian membuat perempuan semakin jauh dari akses dan kontrol terhadap sumber kehidupan itu. j,

Pendidikan politik

Pengadilan perempuan melawan pemiskinan oleh Solidaritas Perempuan ini masih sebatas ruang kampanye oleh gerakan perempuan dan gerakan masyarakat sipil lain. Meskipun demikian, pengadilan ini menjadi media pendidikan politik bagi perempuan akar rumput korban kekerasan, terutama terkait dengan hak ekonomi, sosia], dan budaya untuk melawan semua bentuk pemiskinan yang dilakukan negara maupun aktor di luar negara.

Cara ini juga memberi ruang bagi perempuan untuk memperlihatkan kepada pengurus negara agar negara belajar mendengarkan suara-suara yang selama ini tidak terdengar.

=======================================

KHALISAH KHALID

Dewan Nasional Walhi

2008-2012,

Gender Working Group Friends of the Earth Internasional

Baca selengkapnya...

Ekofeminis di Indonesia, Adakah?


Ecofeminist di Indonesia, Adakah?

Oleh: Khalisah Khalid[1]

Werima Mananta, sosok perempuan biasa yang setiap hari berkebun dan melakukan pekerjaan domestik didalam kehidupan sehari-harinya jauh di Sorowako Sulawesi Selatan sana. Namun, ada yang tidak biasa dalam sosok dirinya. Dengan kesehajaan yang dimilikinya, tersimpan kecerdasan yang luar biasa dan nilai hidup yang jauh begitu mulia. Baginya, tanah adalah sebuah entitas ruang hidup, bukan komoditi yang bisa dijual beli apalagi dipertukarkan. Itulah yang mendasari mengapa tubuhnya yang mulai renta dimakan usia, melakukan reclaiming atas tanah nenek moyangnya yang telah diokupasi oleh satu perusahaan tambang nikel skala internasional yang menguras sumber daya alamnya tidak kurang dari 30 tahun lamanya.

Werima Mananta, mungkin tidak sekaliber Vandana Shiva dengan segala pemikirannya tentang ecofeminisme. Dimana Vandana Shiva melihat kenyataan yang dialami dunia ketiga, bagaimana pembangunan telah melahirkan sebuah mitos yang semakin menempatkan perempuan pada kondisi yang tidak adil, terutama potret pembangunan yang dipraktekkan oleh negara-negara utara.

Pembangunan telah menyebabkan perempuan yang berada dalam kondisi miskin, semakin dimiskinkan oleh sebuah sistem yang menciptakan kebijakan ekonomi dan politik negara maju untuk menjajah negara miskin dan berkembang seperti Indonesia dengan menjual jargon globalisasi. Belum lagi tindakan kekerasan yang dialaminya baik kekerasan fisik dan psikis yang dialami oleh perempuan yang dilakukan aparat keamanan. Jangankan kesejahteraan, keselamatan rakyat saja tidak pernah dihitung sebagai sebuah nilai didalam cerita pembangunan yang dipraktekkan oleh pengurus negara.

Ecofeminist lahir didasari atas sebuah kondisi dimana bumi yang digambarkan sebagai ibu, telah dieksploitasi, dijarah dan dirusak oleh sistem kapitalisme yang berkuasa dengan melanggengkan budaya patriarki dan feodalisme. Ecofeminist kemudian lahir untuk menjawab sebuah kebutuhan penyelamatan bumi dengan berbasiskan pada kekhasan perempuan yang selama ini memiliki pengetahuan didalam mengelola lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupannya. Bagi perempuan, bumi adalah ibu yang harus diselamatkan dari ancaman kerusakan yang dilakukan oleh korporasi yang didukung penuh oleh lembaga keuangan internasional dan pengurus negara. Perempuan adalah tangan pertama yang bersentuhan dengan sumber daya alam, karena itulah perempuan kemudian menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap resiko dan dampak kerusakan lingkungan hidup.

Ecofeminisme sesungguhnya adalah sebuah cara pandang atau menganalisis persoalan lingkungan hidup, dengan menggunakan pisau analisis feminis. Dimana feminis menilai sebuah persoalan itu pada akar persoalan yang terjadi, dampak yang ditimbulkan, khususnya spesifik pada kelompok rentan antara lain perempuan, dan apa yang mendasari perjuangan atau gerakan ini untuk terus besar. Selama ini, kerusakan lingkungan dan aset alam belum merefleksikan sisi pandang perempuan. Budaya patriarki yang telah menggeser kedaulatan perempuan dalam mengelola dan menentukan pangan telah membuat pandangan perempuan tentang kehidupan menjadi kabur, tidak dipahami oleh laki-laki, bahkan oleh perempuan sendiri.

Walaupun dengan bahasa yang sedarhana dan mungkin tidak terdengar heroik dimata aktifis gerakan perempuan dan gerakan lingkungan, yang dipraktekkan oleh sosok Werima dan perempuan-perempuan lainnya melawan industri tambang di Indonesia, telah mengajarkan kepada kita, bahwa perempuan sebagai korban yang lebih rentan terhadap daya rusak industri pertambangan yang telah menghancurkan kehidupan, bisa memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang diyakininya sebagai perempuan.

Ditengah perdebatan apakah ecofeminist ada di Indonesia dengan segala definisi dan fragmentasi gerakan yang mengikutinya, dengan penuh keyakinan saya menyatakan bahwa ecofeminist telah ada sejak lama di Indonesia. Werima Mananta mewakili perempuan di Indonesia yang mulai melihat ketidakadilan yang dialaminya, sebagai sebuah relasi yang utuh atas ketidakadilan yang dibangun oleh sebuah sistem kapitalistik dengan jargon pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Ecofeminisme bukan hanya sebuah sudut pandang (wacana), melainkan merupakan sebuah ideology bagaimana cara bersikap, berprilaku untuk melawan hegemoni neoliberalisme. Karena selama ini kritik terhadap feminis adalah masih asiknya para feminis tersebut “terjebak” dalam sebuah kehidupan konsumtif yang menghalalkan proses neoliberalisme terus masuk kedalam aliran darah manusia. Secara sadar maupun tidak, pola hidup yang dijalani oleh para “feminis” tersebut justru menenggelamkan mereka dalam sebuah kegamangan berideologi sebagaimana ideologi feminisme yang diyakininya. Perjuangan Werima Mananta telah mengajarkan kepada kita sebagai perempuan, bagaimana mereka berjuang menuntut keadilan yang diyakininya.

Akhirnya, selamat hari perempuan internasional, 8 Maret 2008. Semoga gerakan ecofeminisme di Indonesia tidak hanya sekedar wacana.



[1] Penulis adalah Gender Vocal Point Friends of the Earth Indonesia (WALHI), sekaligus Kandidat Dewan Nasional WALHI

Baca selengkapnya...

Bumi, Rumah Manusia

Bumi, Rumah Manusia

Oleh : Khalisah Khalid*

Bumi, rumah manusia. Begitu kira-kira sosok Pramoedya Ananta Toer menggambarkan ruang hidup manusia Indonesia yang semakin hilang eksistensinya, yang terus menerus diteropong layaknya miniatur (baca, rumah kecil) oleh sebuah sistem kapitalisme. Kini, bumi Indonesia tidak bisa lagi menjadi rumah yang aman bagi manusia Indonesia yang mendiaminya. Kata-kata keselamatan bagi manusia yang ada di rumah besar ini, saat ini semakin kabur dari esensinya. Realitas inilah yang dihadapi oleh anak-anak di belahan bumi Sidoarjo, yang rumahnya ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo Brantas dan terancam kehilangan eksistensinya sebagai manusia.

Derajat kerusakan lingkungan di Indonesia, sudah mencapai krisis ekologi yang mengkhawatirkan. Pencemaran (udara, air, tanah) yang menyebabkan turunnya kualitas kesehatan dan kualitas hidup manusia, kehancuran ekosistem yang tidak terpulihkan yang menyebabkan krisis panjang bagi rakyat antara lain kemiskinan akibat hilangnya hak dan akses terhadap sumberdaya alam, kelangkaan sumberdaya alam menyebabkan merosotnya ketahanan pangan, gizi buruk dan kemiskinan. Fenomena perubahan iklim (climate change) saat ini, menjadi potret nyata atas pengabaian terhadap keberlanjutan lingkungan hidup dan hak-hak dasar rakyat untuk mendapatkan jaminan keselamatan, produktifitas, kesejahteraan.

Dari semua manusia yang menempati rumah besar yang sudah mengalami krisis ini, yang paling merasakan dampak yang lebih besar adalah manusia yang hidup dalam garis kemiskinan. Rakyat miskin mengalami masalah dalam mengakses sumber-sumber air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan usaha tani karena menurunnya kuantitas dan kualitas air yang dapat dimanfaatkan. Pengungsi ekologik dan pengungsi pembangunan yang setiap saat kehidupannya tidak lepas dari ancaman, yang dibangun secara sistematik oleh sebuah pembangunan ekonomi global.

Sebagai rumah bagi manusia, bumi Indonesia kita semakin meradang. Keberlanjutannya saat ini telah tergadai oleh sebuah sistem kapitalisme, yang mensyaratkan menjadikan seluruh isi bumi sebagai sumber daya yang bisa dikeruk secara besar-besaran, dengan atas nama mengejar pertumbuhan ekonomi, pembangunan, peningkatan devisa negara dan bahkan atas nama stabilitas negara. Proses penghancuran terhadap bumi dan makhluk bumi inilah yang mendorong terjadinya ecocide, sebagaimana yang dituliskan dalam buku yang berjudul Ecocide, Pelanggaran HAM dan Kejahatan Lingkungan, bahwa ecocide adalah sebuah tindakan terencana yang secara langsung maupun tidak langsung, ditujukan untuk menguras, menghancurkan dan memusnahkan eksistensi dasar ekologi dari sebuah tata kehidupan semua makhluk bumi didalamnya. Walhasil, berbagai upaya destruktif bagi eksistensi keberlanjutan lingkungan hidup, sama halnya dengan penghapusan identitas diri manusia sebagai makhluk yang berakal budi (dehumanisasi).

Ditengah hampir robohnya rumah Indonesia ini, tentu saja kita harus membangun kekuatan kolektif seluruh penduduk bumi untuk menata ulang pondasi dari bangunan dengan konstruksi berbasis ideologi yang jelas. Meskipun, setiap masanya ada proses transisi yang terus menerus mengalami perkembangan, seiring dengan perkembangan sebuah masyarakat memaknai dan memperlakukan alam itu sendiri. Konstruksi yang ingin kita bangun ulang tentu saja dengan pondasi yang melihat kelas siapa yang hari ini paling dimiskinkan, disingkirkan, dihilangkan hak-haknya dasarnya.

Gerakan politik lingkungan di Indonesia saat ini harus memiliki kemampuan untuk memperbesar dan memperluas gerakannya, dan itu hanya bisa dilakukan jika subyek dari gerakan politik lingkungan itu adalah basis massa yang memiliki garis ideologi yang berpikir bahwa perjuangan penegakan keadilan ekologi, bukan sekedar membicarakan soal degradasi lingkungan, tetapi juga membicarakan soal keberlanjutan generasi yang akan datang, bicara soal gerakan lingkungan juga tidak terlepas dari bicara soal bagaimana mengembalikan kedaulatan rakyat terhadap hak-hak dasarnya yang dibangun dengan semangat kolektivitas.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Lao Tzu, bahwa seorang pemimpin adalah orang yang berjalan bersama rakyat, tinggal bersama rakyat, belajar dari rakyat, mencintai rakyat, memulai dari apa yang diketahui oleh rakyat, membangun dari apa yang rakyat miliki. Hanya dengan pemimpin-pemimpin terbaik, ketika pekerjaan sudah selesai dan tujuan rakyat telah tercapai. Rakyat akan berkata, kita telah melakukannya sendiri. Karenanya, gerakan politik lingkungan harus bisa memainkan ritme iramanya dengan manfaat dari gerakan itu sendiri, dan menyentuh kebutuhan dasar dari gerakan rakyat dan merubah kondisi politik yang kontekstual dengan kebutuhan politik rakyat. Kita percaya, bahwa perjuangan politik rakyat tidak bisa lagi diserahkan kepada elit politik dominan hari ini. Semua orang adalah makhluk politik, karenanya tanggungjawab dan tindakan politik harus dimulai setiap hari dmulai dari lingkungan komunitas terkecil sampai lingkungan Negara.

Akhirnya, selamat hari lingkungan 5 Juni 2008. Semoga seluruh kekuatan rakyat hari ini bisa merebut kembali kedaulatan rakyat atas lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupannya.



* Penulis, Dewan Nasional WALHI 2008-2012; Biro Politik dan Ekonomi Sarekat Hijau Indonesia (SHI)

Baca selengkapnya...

Krisis Kedaulatan dalam Perspektif Green Politik

Krisis Kedaulatan dalam Perspektif Green Politik

oleh : Khalisah Khalid


Krisis Sumber Daya Alam

Hari lingkungan yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2008 ini, menjadi sebuah moment penting untuk melihat lebih jauh arah gerakan lingkungan di Indonesia sebagai sebuah gerakan perlawanan yang lahir dari kesadaran akan kondisi pembangunan yang tidak adil, khususnya bagi Negara dunia yang berada di belahan Selatan, belahan bumi yang selalu menjadi sumber eksploitasi sumber daya alamnya dan

Jika dicermati, ada tiga isu utama yang selalu disampaikan oleh pengurus Negara tentang krisis yang dialami oleh rakyat. Dalam membaca sebuah krisis, pengurus Negara mampu melihat peta persoalan yang dialami oleh rakyatnya, antara lain krisis air, krisis pangan dan krisis energi. Sayangnya, road map yang dibuat sebagai sebuah solusi atas krisis yang dihadapi tidak ada relevansinya dengan krisis yang dialami oleh rakyat. Semua krisis dijawab dengan peta jalan memberikan alternatifnya dan mekanismenya kepada pasar, entah itu melalui regulasi, privatisasi maupun liberalisasi yang semuanya dimainkan dalam sebuah alunan orkestra penjajahan yang melemahkan Negara didalam menjalankan fungsi dan perannya untuk menjamin pemenuhan hak-hak dasar rakyatnya.

Bagi Cecil Rhodes (1852-1902), kolonialisme adalah penemuan tanah baru dimana dari tanah tersebut dapat dengan mudah mendapatkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) yang dapat dieksploitasi dengan menggunakan buruh murah dari penduduk pribumi. Sumber daya alam (SDA), sesungguhnya selalu menjadi alasan utama bagi kolonial dimanapun untuk mendominasi dan menanamkan kekuasannya. Dari sini saja jelas digambarkan, bahwa penguasaan Negara (kolonialisasi) terkait erat dengan sumber daya alam sebuah Negara.

Sumber daya alam, berupa bahan mentah yang dikeruk menjadi sebuah komoditas didalam kerangka pemenuhan konsumsi bagi Negara-negara maju, dan kebutuhan tersebut bukan ditentukan oleh konsumennya, melainkan oleh sebuah sistem ekonomi kapitalis yang menjual jargon globalisasi dan pasar bebas. Sementara Negara dimana ditempatkan sebagai penghasil sumber daya alamnya, justru kehilangan akses atas sumber dayanya.

Inilah yang kemudian dinamakan dengan krisis kedaulatan yang disebabkan oleh adanya dominasi ekonomi global yang dibangun oleh sebuah sistem kapitalis dimana penguasa modal dalam hal ini TNC’s/MNC’s, lembaga keuangan internasional maupun elit oligarki di Indonesia melumpuhkan kedaulatan Negara untuk mampu menjalankan mandat konstitusinya untuk menjamin pemenuhan terhadap hak-hak dasar rakyatnya. Dominasi atas kekuatan ekonomi terhadap pengelolaan sumber daya alam, yang menempatkan modal sebagai lokomotif dari seluruh cerita eksploitasi sumbet daya alam.

Keadaan ini lebih lanjut telah menghancurkan nilai-nilai kedaulatan dan keadilan intra dan antar generasi yang selanjutnya telah menciptakan pemiskinan rakyat. Kemerosotan kedaulatan ini ditandai dengan semakin hilangnya hak menentukan nasib sendiri baik di tataran negara hingga di tataran satuan-satuan politik yang terkecil. Kemudian kemerosotan nilai keadilan nampak dari adanya ketimpangan distribusi manfaat bahkan hilangnya hak-hak rakyat atas tanah, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Sementara itu kekuatan elit politik dan ekonomi yang mewarisi watak penguasa sebelumnya, telah berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya kembali dalam ruang-ruang politik.

Ketimpangan yang dialami bangsa ini juga merupakan potret global di mana terjadi ketimpangan dalam kesejahteraan dan penguasaan asset antara segelintir orang dengan mayoritas rakyat di dunia. Tingkat kesejahteraan yang tinggi yang dinikmati oleh segelintir orang ini dapat berlangsung karena penghisapan terhadap kekayaan alam dan modal sosial di negara-negara dunia ketiga atau negara yang lebih miskin, serta terhadap kelompok yang lebih rentan pada umumnya.

Di sisi lain gaya hidup, pola konsumsi dan tingkat kesejahteraan segelintir orang ini bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup di negara-negara yang menjadi sumber penghisapan karena eksploitasi yang membabibuta. Pola konsumsi segelintir kelompok secara berlebih, telah menyebabkan munculnya ancaman kerusakan lingkungan hidup yang berdimensi global. Ini sekaligus kritik terhadap pandangan yang menyebutkan bahwa kelebihan populasi penduduk (overpopulation), berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam di negara miskin yang jumlah penduduknya besar seperti Indonesia.

Krisis Lingkungan

Paradigma pembangunan yang mengacu pada nilai-nilai yang dibangun oleh sistem ekonomi global, selalu memiliki watak yang eksploitatid dimana pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan sector tertentu yang ekstraktif seperti pertambangan dan kehutanan, berkonsekuensi pada perubahan fungsi bentang alam seperti perkebunan dan pembangunan infrastruktur dengan menyingkirkan kebutuhan lain seperti lahan untuk penyediaan lahan pangan, dan akibat lebih lanjut adalah menhasilkan pengungsi ekologik dan pengungsi pembangunan.

Jon Schubart menyatakan bahwa ekologi politik mencoba untuk menelusuri empat hal, yakni (a) bagaimana struktur sosial dan alam saling menentukan, dan bagaimana keduanya membentuk akses terhadap sumber daya alam, (b) bagaimana konsep alam dan masyarakat yang telah dikonstruksi menentukan interaksi manusia dengan lingkungan, (c) koneksi antara akses terhadap dan kontrol atas sumber daya dan perubahan lingkungan, (d) hasil sosial dari perubahan lingkungan.

Gerakan politik lingkungan di Indonesia harus mampu menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak sesedarhana yang dibayangkan, tidak hanya bicara soal science dan teknologi. Bicara soal lingkungan artinya kita bicara tentang persoalan yang lebih mendasar tentang social politik dan ekonomi politik, dimana saat ini ada kondisi yang tidak adil atas nama pembangunan ekonomi global, yang menghasilkan perubahan lingkungan yang tidak adil, khususnya bagi Negara dunia ketiga. Konstruksi yang ingin kita bangun ulang tentu saja dengan pondasi yang melihat kelas siapa yang hari ini paling dimiskinkan, disingkirkan, dihilangkan hak-haknya dasarnya.

Gerakan politik lingkungan di Indonesia saat ini harus memiliki kemampuan untuk memperbesar dan memperluas gerakannya, dan itu hanya bisa dilakukan jika subyek dari gerakan politik lingkungan itu adalah basis massa yang memiliki garis ideologi yang berpikir bahwa perjuangan penegakan keadilan ekologi, bukan sekedar membicarakan soal degradasi lingkungan, tetapi juga membicarakan soal keberlanjutan generasi yang akan datang, bicara soal gerakan lingkungan juga tidak terlepas dari bicara soal bagaimana mengembalikan kedaulatan rakyat terhadap hak-hak dasarnya yang dibangun dengan semangat kolektivitas.

Jika Indonesia ingin keluar dari krisis lingkungan dan krisis kedaulatan, maka pada seluruh cerita model pengelolaan sumber daya alam di Indonesia harusnya menggunakan tiga hal mendasar dan semuanya harus didefinisikan menurut korban terbesar dan siapa yang paling tersubordinasi dari pembangunan. Tiga hal mendasar tersebut adalah bagaimana jaminan keselamatan rakyatnya, bagaimana jaminan atas kesejahteraan dan produktifitasnya, dan bagaimana jaminan atas keberlanjutan dari fungsi pelayanan alamnya. Semuanya harus menjadi pilar utama dalam proses pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam,



* Penulis, Dewan Nasional WALHI 2008-2012; Biro Politik dan Ekonomi Sarekat Hijau Indonesia (SHI)

Baca selengkapnya...

Membaca (Lagi) Krisis Pulau Jawa

Koran Tempo/ 28 Februari 2008
Opini


Cerita tentang krisis Pulau Jawa bukan hal yang baru, demikian juga dengan prediksi bahwa pulau ini akan tenggelam karena sudah kelebihan beban. Maklum, banjir pernah mengepung Pulau Jawa pada 2007. Pada awal tahun ini, banjir juga menenggelamkan tiga perempat wilayah Jakarta, 62 kecamatan di Jawa Barat, 7 kabupaten di Jawa Tengah, dan 4 kabupaten di Jawa Timur. Dalam catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Jatam pada 2000-2003, tidak kurang dari 2.822 desa tenggelam akibat banjir, dengan kerugian yang tidak sedikit.
Walhi telah mengingatkan soal peta rawan bencana di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang mempunyai beban cukup tinggi. Pulau ini memiliki 125 juta jiwa atau sekitar 65 persen dari total penduduk di Indonesia. Namun, warga sebanyak itu mendiami pulau kecil yang luasnya hanya 7 persen dari seluruh luas daratan Indonesia, dengan kapasitas penyediaan air yang tinggal 4 persen dari ketersediaan air nasional. Dengan luas wilayah kurang-lebih 13 juta hektare, Pulau Jawa hanya memiliki 1,9 juta hektare tutupan hutan. Artinya, Pulau Jawa tinggal menunggu waktu untuk tenggelam.
Saat ini Pulau Jawa sebenarnya tidak lagi memiliki hutan alam. Yang tersisa hanya kebun kayu di bawah pengelolaan badan usaha milik negara, yakni Perhutani. Selama pengelolaan oleh Perhutani, telah terbukti bahwa kondisi hutan Jawa semakin hari semakin hancur. Belum lagi peminggiran terhadap petani-petani di Jawa yang tidak lagi memiliki lahan, sehingga mereka terpaksa harus hidup di kawasan dengan kemiringan yang sangat rawan terhadap bencana.
Potret kehancuran Jawa
Membaca peristiwa banjir yang kini menenggelamkan sebagian Pulau Jawa tidak lepas dari model dan pilihan pembangunan yang mulai dipraktekkan sejak zaman kolonialisasi, ketika Daendels membangun jalan sepanjang Anyer-Panarukan. Praktek industrialisasi yang disokong infrastruktur raksasa inilah yang kemudian menjadi landasan atau pijakan model pembangunan, yang berujung pada tata kuasa, tata penggunaan lahan, tata produksi, serta tata konsumsi yang menguntungkan segelintir elite kuasa politik dan modal.
Jared Diamond dalam teori collapse-nya mengatakan runtuh dan berkembangnya satu entitas dalam satuan lingkungan bukan ditentukan oleh kondisi geografik alaminya saja. Pilihan untuk bertahan atau collapse jatuh pada entitas manusia yang tinggal di dalamnya. Entitas pada konteks tertentu ditentukan oleh pilihan pemimpinnya. Tampaknya pemimpin entitas manusia Pulau Jawa memilih jalan menuju collapse dengan membiarkan bencana terjadi dengan intensitas yang meningkat dari tahun ke tahun. Bencana itu pun diatasi dengan cara yang terus-menerus sama, yakni pembangunan infrastruktur raksasa, mobilisasi bantuan secara serampangan, sambil terus menyalahkan alam.
Berbagai fakta kerusakan lingkungan hidup di Indonesia yang terjadi hingga hari ini semestinya dibaca dalam logika kompleks antara pertumbuhan yang diagung-agungkan, ketidakpahaman atas perubahan lingkungan Pulau Jawa, dan pengabaian atas biaya yang ditanggung warga dalam sejarah pembangunan. Biaya tersebut adalah kemiskinan struktural yang menghasilkan kerawanan pangan serta krisis air bersih dan energi yang menjadi kebutuhan dasar manusia.
Kerusakan hutan yang disebabkan oleh perubahan alih fungsi lahan telah mengubah fungsi lindung. Sementara itu, sedimentasi dan pencemaran air sungai serta pencemaran tanah oleh logam berat terus terjadi tanpa tertangani. Kenyataan ini semakin memicu Jawa bukan hanya berada di titik nadir kehancuran ekologis, tapi juga menuju kehancuran kehidupan (collapse).
Diamond mengingatkan bahwa kehancuran lingkungan pada peradaban manusia memicu konflik antarwarga yang sebetulnya bibitnya sudah ada. Kondisi krisis pun digunakan sebagai sarana politik menjatuhkan lawan dengan menyabotase tanggap darurat bencana. Dalam kondisi yang demikian, bukan hanya kondisi perubahan lingkungan yang menjadi ancaman, melainkan respons elemen-elemen negara dan politik yang tampak memilih jalan kehancuran yang jauh lebih mengancam.
Respons rakyat menghadapi krisis Jawa
Sebanyak 83 persen kawasan kepulauan Indonesia pada dasarnya rawan terhadap bencana dan 90 persen warga negara Indonesia terancam keselamatannya. Sering kali negara dan rakyat berada di ruang yang berbeda ketika terjadi bencana, meskipun ada Undang-Undang Penanggulangan Bencana. Kita tidak bisa lagi banyak berharap dari negara, meskipun negara tetap harus dikuatkan untuk menjalankan fungsi dan perannya memberikan jaminan keselamatan, produktivitas, kesejahteraan, dan keberlanjutan pelayanan alam.
Dalam banyak laporan tampak jelas, warga di wilayah krisislah yang lebih cepat merespons situasi yang dihadapi sebagai bagian dari cara bertahan di tengah bencana dan seluruh kerepotan yang dihadapinya. Banyak catatan dan pengalaman yang bisa didapat selama terjadinya bencana, paling tidak rakyat sudah membangun inisiatifnya sendiri untuk bahu-membahu menghadapi krisis. Inilah yang dinamakan subsidi rakyat kepada negara, karena negara lamban merespons krisis rakyatnya..................

Baca selengkapnya...